Perkembangan teknologi dan sains telah mengubah wajah konflik global secara drastis. Jika pada masa lalu kemenangan perang ditentukan oleh jumlah pasukan dan kekuatan militer konvensional, maka pada era modern faktor penentu tersebut bergeser pada kemampuan negara dalam menguasai teknologi canggih. Perubahan ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik dunia kini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan manusia di medan tempur, tetapi juga oleh inovasi ilmiah yang mampu memperluas jangkauan serta efektivitas strategi militer. Dengan demikian, penguasaan teknologi menjadi elemen strategis yang secara langsung memengaruhi keseimbangan kekuatan antarnegara dalam sistem internasional.
Dalam konteks tersebut, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, menegaskan bahwa konflik modern pada dasarnya merupakan perang teknologi. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam kajian bertajuk “Strategi Diplomasi Indonesia dalam Memitigasi Potensi Eskalasi Perang Regional Multipolar” yang digelar di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada Kamis, 5 Maret 2026. Dalam video pemaparannya yang diunggah akun resmi Nahdlatul Ulama, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa pola konflik dunia telah mengalami perubahan signifikan dibandingkan dengan era perang dunia. Jika dahulu pertempuran berlangsung secara langsung antara pasukan manusia di medan tempur, kini konflik lebih banyak ditentukan oleh kemampuan negara dalam mengembangkan dan memanfaatkan teknologi militer modern, seperti roket, sistem balistik, drone, serta berbagai sistem persenjataan jarak jauh.
Menurutnya, pada masa lalu perang dunia berlangsung melalui mobilisasi pasukan besar yang bertempur langsung di medan perang. Amerika Serikat bersama sekutunya berhadapan dengan Jerman melalui pertempuran konvensional yang mengandalkan kekuatan manusia. Namun, situasi tersebut kini berubah secara fundamental. Dalam konflik global saat ini, kemenangan tidak lagi ditentukan oleh jumlah batalyon atau divisi tentara, melainkan oleh teknologi yang dimiliki suatu negara.
Perubahan ini juga memengaruhi cara wilayah konflik dipahami dan dikendalikan. Jika sebelumnya dominasi ruang geografis dicapai melalui pendudukan wilayah oleh pasukan, kini kontrol ruang dapat dilakukan dari jarak jauh melalui teknologi militer, seperti roket balistik, drone, dan bom presisi. Jusuf Kalla menyatakan bahwa negara yang memiliki kemampuan teknologi lebih unggul akan mampu menyerang target dari jarak jauh tanpa harus mengirim banyak tentara ke medan perang. Sistem persenjataan tersebut memungkinkan serangan dilakukan secara cepat dan presisi sehingga ruang konflik tidak lagi terbatas pada garis pertempuran konvensional.
Dalam konteks pembangunan negara, Jusuf Kalla menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari penguasaan sains dan teknologi. Ia menyatakan bahwa negara yang ingin memperkuat posisinya di dunia harus menempatkan pengembangan teknologi sebagai prioritas utama. Teknologi seperti sistem balistik, roket, drone, dan kendaraan tempur modern menjadi indikator kekuatan militer sekaligus simbol kapasitas inovasi suatu negara.
Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa sains dan teknologi memiliki dua sisi. Di satu sisi teknologi mampu mendorong kemajuan peradaban, tetapi di sisi lain juga berpotensi menjadi alat destruktif dalam konflik global.
Dalam realitas geopolitik saat ini, negara yang memiliki teknologi lebih unggul sering kali mampu mengalahkan negara dengan jumlah pasukan lebih besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam tatanan dunia modern, penguasaan teknologi menjadi faktor utama yang menentukan kemenangan sekaligus arah perkembangan peradaban manusia.
