Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Jawa Barat Diskatan Kuningan Mulai Gunakan Drone untuk Protek...
Jawa Barat

Diskatan Kuningan Mulai Gunakan Drone untuk Proteksi Lahan Padi, Ini Keunggulannya

Diskatan Kuningan Mulai Gunakan Drone untuk Proteksi Lahan Padi, Ini Keunggulannya

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan mulai mengandalkan teknologi drone untuk memproteksi lahan padi dari serangan hama. Langkah ini diambil guna menekan biaya operasional sekaligus mempercepat penanganan gangguan tanaman di berbagai wilayah persawahan secara efektif.

Brigade Proteksi Tanaman Diskatan menerapkan teknologi ini dalam Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede, Rabu, 4 Februari 2026. Sasaran utamanya adalah lahan seluas 10 hektare milik Kelompok Tani Sri Dewi 3 yang terindikasi terserang penyakit hawar daun bakteri (bacterial leaf blight—BLB) atau dikenal sebagai penyakit “kresek”.

Efisiensi Biaya dan Kecepatan Penanganan

Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, menjelaskan bahwa penggunaan pesawat nirawak ini memberikan keuntungan finansial yang signifikan bagi para petani. Data Diskatan menunjukkan biaya penyemprotan menggunakan drone hanya berkisar Rp250.000 per hektare. Angka ini jauh lebih murah dibandingkan metode manual yang membutuhkan biaya antara Rp350.000 hingga Rp700.000 per hektare.

“Dengan drone, penyemprotan lebih cepat, merata, dan biaya lebih efisien. Ini menjadi solusi tepat terutama untuk hamparan sawah yang luas dan kondisi serangan OPT yang harus ditangani segera,” ujar Wahyu di sela kegiatan pemantauan tersebut.

Selain efisiensi biaya, akurasi penyemprotan menjadi keunggulan utama. Teknologi ini memastikan distribusi pestisida menjangkau area terdampak secara merata tanpa bergantung sepenuhnya pada ketersediaan tenaga kerja manual yang kian terbatas.

Dalam interaksinya dengan para petani, Wahyu menekankan pentingnya konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Ia mengingatkan bahwa intervensi teknologi harus didahului oleh pengamatan rutin dan pola budidaya yang tepat agar ekosistem pertanian tetap terjaga.

“PHT menjadi kunci utama. Penggunaan pestisida harus berdasarkan rekomendasi teknis dan dilakukan secara bijak agar tidak menimbulkan resistensi OPT maupun merusak ekosistem pertanian,” katanya dikutip dari Inilahkuningan.com.

Respons Cepat di Lima Titik Lokasi

Pada hari yang sama, Diskatan Kuningan tidak hanya berfokus di Kadugede. Brigade Proteksi Tanaman melaksanakan empat kegiatan Gerdal lainnya secara paralel di lokasi berbeda guna merespons laporan warga. Berikut adalah rincian penanganan yang dilakukan.

  • Desa Bangunjaya (Subang): Pengendalian wereng batang cokelat (WBC) seluas 10 hektare.
  • Desa Cikubangmulya (Ciawigebang): Pengendalian serangan tikus pada lahan seluas 10 hektare.
  • Desa Babakanmulya (Cigugur): Penanganan penyakit BLB/Blas seluas 5 hektare.
  • Desa Bungur Beres (Cilebak): Pengendalian BLB seluas 10 hektare.

Wahyu menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas produksi pangan. Menurutnya, penundaan dalam pengendalian OPT berisiko fatal terhadap hasil panen nasional.

“Setiap laporan petani harus ditindaklanjuti secara cepat dan terukur. Pengendalian OPT tidak bisa ditunda karena berisiko menurunkan hasil panen. Oleh karena itu, pendekatan yang kami lakukan bersifat spesifik lokasi dan spesifik organisme,” tuturnya.

Pihak Diskatan akan terus melakukan pemantauan pascagerdal melalui petugas lapangan. Langkah ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil penyemprotan serta mencegah potensi serangan hama susulan di masa mendatang.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!