Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Internasional Thailand Imbau Warganya untuk Lakukan WFA Demi Sik...
Internasional

Thailand Imbau Warganya untuk Lakukan WFA Demi Sikapi Krisis Kenaikan Harga Minyak

Thailand Imbau Warganya untuk Lakukan WFA Demi Sikapi Krisis Kenaikan Harga Minyak

Ketegangan geopolitik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel secara tidak langsung memicu guncangan pada pasar energi global. Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak mentah dunia, khususnya dari kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pusat produksi energi global. Dampak langsungnya terlihat pada lonjakan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh angka sekitar US$100 per barel sebelum akhirnya terkoreksi menjadi sekitar US$95 per barel.

Untuk menghadapi potensi krisis energi akibat fluktuasi harga minyak dunia, pemerintah Thailand mengambil langkah kebijakan strategis untuk menekan konsumsi energi domestik. Kabinet Thailand memutuskan bahwa sebagian besar lembaga pemerintah harus menerapkan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) secara penuh. Sekretaris Jenderal Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Thailand, Danucha Pichayanan, menyatakan bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk mengurangi permintaan energi nasional di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan global. Kebijakan ini berlaku bagi pegawai pemerintah yang tidak terlibat langsung dalam layanan publik.

Secara struktural, Thailand memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor minyak mentah, terutama dari kawasan Timur Tengah. Dilansir dari Bloomberg, konsumsi energi negara tersebut mencapai sekitar 124 juta liter minyak olahan per hari. Sementara itu, cadangan minyak nasional per 5 Maret tercatat sekitar 8 miliar liter, yang secara kalkulasi mampu memenuhi kebutuhan energi domestik selama kurang lebih dua bulan tanpa pasokan baru.

Selain kebijakan WFH, Kementerian Energi Thailand juga mengusulkan berbagai langkah penghematan energi. Di antaranya adalah pengaturan suhu pendingin ruangan pada kisaran 26 hingga 27 derajat Celsius serta mendorong penggunaan pakaian berlengan pendek selama musim panas untuk mengurangi konsumsi listrik. Pemerintah juga meminta kerja sama sukarela dari sektor swasta serta menginstruksikan Departemen Hubungan Masyarakat untuk meluncurkan kampanye penghematan energi melalui televisi, radio, dan media sosial. Namun, apabila situasi memburuk dan pasokan energi terganggu secara signifikan, pemerintah dapat memberlakukan kebijakan yang lebih ketat, seperti mematikan papan reklame bercahaya setelah pukul 22.00 atau membatasi jam operasional stasiun pengisian bahan bakar.

Fenomena serupa juga terjadi di kawasan Asia Tenggara. Pemerintah Filipina telah menerapkan kebijakan empat hari kerja bagi kantor pemerintahan sebagai upaya mengurangi konsumsi energi. Negara tersebut hampir sepenuhnya bergantung pada impor minyak sehingga kenaikan harga energi global memberikan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi domestik. Kebijakan penghematan energi yang diambil oleh Thailand dan Filipina menunjukkan bahwa negara-negara Asia Tenggara mulai menyesuaikan strategi kebijakan domestik mereka terhadap dinamika geopolitik energi global.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!