Memasuki puncak musim hujan, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengambil langkah antisipatif dengan memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Kebijakan ini diambil setelah prakiraan BMKG menunjukkan tingginya potensi cuaca ekstrem, terutama pada Januari dan Februari 2026, periode yang diprediksi menjadi fase paling intens curah hujan di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata menjelaskan bahwa perpanjangan status ini telah ditetapkan melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 432 Tahun 2025 tentang Penetapan Perpanjangan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi. Status siaga darurat berlaku sejak 20 Desember 2025 hingga 19 Maret 2026 dan mencakup potensi bencana banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem. “Kalau menurut prediksi BMKG, puncak curah hujan di tahun ini kan ada di Januari–Februari,” kata Ruruh di Yogyakarta, dikutip dari ANTARA.
Ia menegaskan bahwa penetapan status siaga merupakan upaya untuk mempersiapkan seluruh elemen sejak dini. “Ini kan sebagai langkah antisipatif bagaimana kita menghadapi bencana hidrometeorologi. Jadi, lebih baik kita siap daripada tergagap.”
BPBD DIY meminta masyarakat ikut meningkatkan kewaspadaan dengan mengidentifikasi potensi risiko di lingkungan masing-masing. Menurut Ruruh, sejumlah bahaya kerap muncul dari hal-hal yang terlihat sepele, tetapi berpotensi fatal, seperti pohon tinggi yang rapuh atau drainase yang tersumbat.
“Pohon-pohon yang tinggi dan rapuh itu segera dilakukan pruning. Kalau sudah rapuh ya dipotong karena beberapa kali kejadian pohon tumbang justru menimbulkan korban jiwa,” ujarnya. Selain itu, warga yang tinggal di kawasan dengan kontur tanah tidak stabil diminta memantau munculnya rekahan dan melaporkannya kepada petugas. “Kalau sudah mulai ada rekahan, tolong informasikan kepada teman-teman di lapangan, baik relawan di Kalurahan Tangguh Bencana maupun melalui saluran informasi yang kita miliki, supaya bisa segera dilakukan asesmen.”
Selama masa siaga darurat, BPBD DIY terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota dan memantau kondisi cuaca melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops). “Kalau kemudian perlu backup dari kami di provinsi, teman-teman TRC akan kami turunkan,” kata Ruruh. Ia menyebutkan bahwa pada Januari 2026 sejumlah kejadian telah terjadi, terutama di Gunungkidul, mulai dari puting beliung hingga amblesan tanah di Girikarto, Panggang.
Dari sisi meteorologi, Kepala Stasiun Klimatologi DIY Reni Kraningtyas memaparkan bahwa curah hujan di wilayah DIY pada Januari 2026 diprediksi berkisar 201 hingga lebih dari 500 milimeter per bulan. Kriteria hujan berada pada kategori menengah hingga sangat tinggi dengan sifat hujan normal hingga atas normal. Pada Februari 2026, intensitasnya diprakirakan masih berada pada kisaran 201 hingga 500 milimeter per bulan. Sementara pada Maret 2026, curah hujan diprediksi turun di rentang 201 hingga 400 milimeter per bulan. Reni mengingatkan agar pemerintah daerah dan masyarakat tetap meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya di wilayah rawan banjir, tanah longsor, dan angin kencang. “Melakukan langkah mitigasi, seperti membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon, serta memastikan kekuatan baliho di ruang publik,” pesannya.
