Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) menjalin kerja sama dengan Geovis Skyline Technology (Xiamen) Co., Ltd. dari Tiongkok untuk mengembangkan teknologi kedirgantaraan berbasis SIG dan pengindraan jauh. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) sebagai langkah awal membangun kolaborasi riset yang lebih luas.
Kepala PRSDI BRIN, Esa Prakasa, menyatakan bahwa kesepakatan ini bertujuan memperkuat penelitian pada bidang-bidang strategis yang menjadi kepentingan bersama dan memberi dampak nyata bagi pembangunan sosial serta ekonomi kedua negara. Ia menegaskan bahwa PRSDI terus mendorong kolaborasi riset dan inovasi, baik di dalam maupun luar negeri, demi memperkuat kapasitas sains data Indonesia.
Kerja sama ini akan mencakup pengembangan aplikasi untuk mendukung sistem elektronik penerbangan komersial, sistem ekonomi low-altitude atau pemanfaatan ruang udara rendah, analisis Big Data, serta pengembangan teknologi pengindraan jauh dan sistem informasi geografis (SIG). Secara sederhana, teknologi ini memungkinkan pengumpulan dan pengolahan data dari satelit, sensor, dan berbagai sumber lain untuk memetakan serta menganalisis kondisi suatu wilayah. Dengan dukungan teknologi tersebut, informasi tentang wilayah darat maupun udara dapat divisualisasikan secara lebih akurat sehingga membantu pengambilan keputusan di berbagai sektor.
Senior Vice President Geovis, Xiaoyan Liu menyatakan bahwa perusahaannya berfokus pada inovasi teknologi informasi kedirgantaraan dan pengembangan platfrom berbasis Digital Earth, sebagaimana dikutip dari laman resmi BRIN. Platform ini menggabungkan Big Data, komputasi awan, dan kecerdasan buatan (AI) untuk menampilkan data geografis dalam bentuk tiga dimensi. Teknologi ini dapat digunakan oleh pemerintah, sektor pertahanan, maupun perusahaan untuk memahami kondisi wilayah secara menyeluruh dan mendukung perencanaan yang lebih tepat.
Dengan terjalinnya kolaborasi ini, BRIN dan Geovis tidak hanya memperkuat hubungan kerja sama riset antara Indonesia dan Tiongkok, tetapi juga membuka peluang percepatan transformasi teknologi geospasial nasional. Sinergi dalam pengembangan SIG, pengindraan jauh, dan platform Digital Earth diharapkan mampu meningkatkan kemandirian teknologi, memperkaya ekosistem inovasi, serta mendorong pemanfaatan data spasial secara lebih optimal untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor strategis.
