Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Sains Teknologi Tiongkok Tancap Gas Menguji Teknologi 6G, dari Dro...
Sains Teknologi

Tiongkok Tancap Gas Menguji Teknologi 6G, dari Drone hingga Satelit Orbit Tinggi

Tiongkok Tancap Gas Menguji Teknologi 6G, dari Drone hingga Satelit Orbit Tinggi

Di tengah ambisi besar membangun ekosistem teknologi generasi berikutnya, Tiongkok mulai memamerkan bagaimana 6G dapat mendayai perangkat pintar di darat hingga luar angkasa. Di sebuah lokasi uji coba di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, sebuah sistem pemantauan berbasis komputasi dan penginderaan canggih mendeteksi drone “ilegal” hanya dalam 0,1 detik. Informasi itu lengkap dengan model dan ciri utamanya. Kecepatan analisis ini menjadi gambaran awal bagaimana jaringan 6G membuka lompatan teknologi baru.

Skenario tersebut merupakan bagian dari eksplorasi Purple Mountain Laboratories (PMLabs), lembaga riset 6G terkemuka di Tiongkok. Para engineer di laboratorium ini mengembangkan area uji lapangan bebas sel 6G yang diklaim memiliki jangkauan, kapasitas, dan efisiensi spektrum hingga 10 kali lebih unggul dibandingkan 5G. Dalam lima tahun mendatang, teknologi semacam ini ditargetkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus menciptakan ceruk pasar baru di bidang drone dan robotika.

Dilansir dari ANTARA, pada Juni 2025 lalu, sistem bebas sel 6G PMLabs diterjunkan dalam latihan darurat yang menyimulasikan kebakaran tangki penyimpanan. Teknologi tersebut digunakan untuk mengoordinasikan sekelompok drone agar dapat menyelesaikan misi secara cepat dan presisi. Sementara itu, di kawasan inovasi di pinggiran utara Beijing, pusat pelatihan robot berkemampuan 6G telah beroperasi untuk menguji bagaimana jaringan ini dapat menggerakkan mesin-mesin cerdas masa depan.

Para pembuat kebijakan ekonomi Tiongkok kini melihat bahwa skenario aplikasi, seperti robot, drone, hingga satelit, adalah jembatan penting yang menghubungkan riset dengan pasar serta mempercepat industrialisasi inovasi baru. Menurut Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok, uji coba 6G telah berlangsung selama empat tahun berturut-turut dan tahap pertama kini selesai dengan lebih dari 300 pencapaian teknis.

Ke depan, teknologi 6G digadang-gadang akan mendukung navigasi dalam ruangan dengan akurasi berskala sentimeter, pengemudian berbantuan tingkat tinggi, hingga konektivitas cerdas antarperangkat dalam jumlah masif. Bahkan dalam dunia kesehatan, teknologi ini diproyeksikan memungkinkan proses pembedahan jarak jauh yang rumit.

Ambisi tersebut mulai terlihat dari uji luar angkasa terbaru. China Telecom, Universitas Tsinghua, dan sejumlah mitra industri menggunakan satelit yang mengorbit di ketinggian 20.000 kilometer untuk memverifikasi koneksi di wilayah kutub, lautan lepas, dan cakupan 6G generasi mendatang. Satelit tersebut mencatat kecepatan downlink puncak 140 Mbps, yang menunjukkan reliabilitas transmisi data berkecepatan tinggi langsung dari satelit ke perangkat pengguna.

Satelit itu menjadi bagian dari armada orbit-Bumi-menengah Smart SkyNet yang sedang dibangun, menawarkan jangkauan tanpa celah. Jika dikombinasikan dengan konstelasi orbit rendah (LEO), sistem ini akan membentuk jaringan 6G terintegrasi darat-angkasa. Operator telekomunikasi terkait juga telah meluncurkan simulator akses satelit 6G visual untuk menguji validasi mega-konstelasi LEO. Hingga kini, Tiongkok telah meluncurkan 13 kelompok satelit untuk memperluas internet orbitnya, serta menempatkan satelit verifikasi arsitektur 6G pada tahun lalu.

Konektivitas satelit yang menyatu dengan jaringan darat dipandang sebagai salah satu dari tiga karakteristik utama 6G. Dua lainnya adalah kemampuan menggabungkan komunikasi dengan pengindraan serta komunikasi dengan kecerdasan buatan (AI).

Terobosan tersebut turut ditopang inovasi di tingkat perangkat keras. Baru-baru ini, sebuah tim peneliti Tiongkok meluncurkan cip optoelektronik ultra-broadband bertenaga AI yang mampu bekerja pada rentang frekuensi 0,5 GHz hingga 115 GHz. Penemuan ini telah dipublikasikan di jurnal Nature dan dianggap menjanjikan koneksi 6G yang jauh lebih cepat dan stabil.

“Ini seperti menambahkan jalan tol super. Sinyal dapat berpindah jalur saat ada jalur macet sehingga data tidak akan tertahan di tengah lalu lintas data,” tutur Wang Xingjun dari Universitas Peking, yang memimpin penelitian tersebut.

Laporan industri menunjukkan bahwa hingga Juni 2025, Tiongkok memegang 40,3 persen paten 6G dunia. Dengan makin banyak paten dan terobosan yang diklaim, Tiongkok kini memperkuat posisinya dalam penetapan standar global 6G.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!