Aktivitas perusahaan intelijen geospasial asal Tiongkok, MizarVision, kini berada di bawah sorotan tajam setelah citra satelit yang mereka publikasikan diduga berkaitan erat dengan serangan terhadap armada tempur Amerika Serikat (AS). Data presisi mengenai lokasi jet tempur stealth hingga kapal induk yang disebarkan melalui media sosial tersebut memicu spekulasi mengenai peran teknologi pengenalan citra dalam eskalasi konflik di Timur Tengah.
Laporan dari FlightGlobal pada 3 Maret 2026 menyebutkan bahwa sejumlah fasilitas militer AS yang dipublikasikan oleh MizarVision berakhir menjadi sasaran serangan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) Iran. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar mengenai apakah keterbukaan informasi intelijen ini merupakan sebuah kebetulan atau pemandu serangan yang disengaja.
MizarVision secara agresif membagikan detail alutsista AS di berbagai pangkalan strategis. Beberapa aset yang terbongkar meliputi jet tempur Lockheed Martin F-22 di Pangkalan Udara Ovda, Israel, serta tujuh unit Boeing E-3 AWACS dan dua Bombardier E-11 di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi.
Dalam salah satu laporannya pada 27 Februari 2026, perusahaan yang berbasis di Shanghai ini memberikan detail yang sangat spesifik. “Foto satelit menunjukkan militer AS membawa suplai ke Lanud Ovda dengan C-17. Dalam periode yang sama, tujuh unit F-22 parkir di apron dan empat unit F-22 tampak di landasan.”
