Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Kampus Mengenal Teknologi Drone Sprayer Pertanian yang Di...
Kampus

Mengenal Teknologi Drone Sprayer Pertanian yang Digagas BINUS University

Mengenal Teknologi Drone Sprayer Pertanian yang Digagas BINUS University

Kemajuan teknologi di Indonesia terus menembus berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia pertanian yang selama ini identik dengan cara-cara konvensional. Salah satu inovasi yang kini menarik perhatian adalah drone sprayer. Alat ini adalah pesawat tanpa awak yang dirancang khusus untuk membantu petani melakukan penyemprotan cairan, seperti pestisida, pupuk, atau air secara otomatis di lahan pertanian. Teknologi ini membawa paradigma baru dalam praktik pertanian presisi (precision agriculture) yang berorientasi pada efektivitas, keamanan, dan keberlanjutan.

Drone sprayer pada dasarnya berfungsi menggantikan tenaga manusia dalam kegiatan penyemprotan tanaman. Jika biasanya petani harus memanggul alat semprot dengan beban sekitar 20 kilogram dan berjalan mengelilingi sawah di bawah terik matahari, kini pekerjaan tersebut dapat dilakukan lebih cepat dan aman dengan bantuan drone yang dikendalikan dari jarak jauh. Menurut data dari Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, sebuah drone dengan tangki berkapasitas sekitar 20 liter mampu menyemprot lahan seluas satu hektare hanya dalam waktu sepuluh menit dengan kecepatan terbang sekitar 3 kilometer per jam.

Keunggulan inilah yang mendorong berbagai institusi pendidikan dan penelitian ikut berinovasi, salah satunya BINUS University. Melalui riset dan pengembangan teknologi drone sprayer, kampus tersebut berupaya menghadirkan solusi konkret bagi petani Indonesia agar lebih produktif dan efisien. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari komitmen BINUS untuk mewujudkan visinya sebagai “a world-class university fostering and empowering the society”. Program pengembangan dan pelatihan yang dilakukan di beberapa daerah pertanian, khususnya di Jawa Barat, memperlihatkan bagaimana teknologi dapat dihadirkan langsung untuk mendukung pemberdayaan masyarakat.

Gambar 1

Teknis Drone Sprayer

Secara teknis, drone sprayer terdiri atas beberapa komponen utama, seperti tangki cairan, pompa penyemprot, selang atau pipa penghubung, serta nozzle (lubang semprot) yang dipasang pada badan drone. Semua sistem tersebut diatur oleh pengendali jarak jauh yang terhubung dengan perangkat GPS atau aplikasi berbasis Android.

Operator atau petani dapat memprogram rute penerbangan drone berdasarkan peta area lahan yang akan disemprot. Setelah lepas landas, drone akan terbang mengikuti jalur yang telah ditentukan, menjaga ketinggian konstan di sekitar satu hingga dua meter di atas tanaman, lalu menyemprotkan cairan secara merata sesuai dosis yang diatur.

Selain mempercepat proses kerja, penggunaan drone juga meningkatkan keselamatan petani karena mereka tidak lagi harus bersentuhan langsung dengan bahan kimia. Di sisi lain, hasil penyemprotan menjadi lebih presisi dan efisien. Pestisida atau pupuk hanya disemprotkan di area yang dibutuhkan, sehingga dapat menekan pemborosan dan mengurangi dampak lingkungan.

Gambar 2

Namun, di balik berbagai keunggulannya, penerapan drone sprayer juga menghadapi sejumlah tantangan. Harga perangkat yang masih relatif mahal menjadi kendala utama bagi sebagian besar petani kecil. Selain itu, pengoperasian drone membutuhkan keterampilan khusus dalam hal navigasi udara, pengaturan dosis cairan, hingga perawatan perangkat. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta menjadi kunci untuk memperluas akses teknologi ini ke lapisan petani yang lebih luas.

Upaya yang dilakukan BINUS University menjadi contoh bagaimana inovasi teknologi bisa bersinergi dengan pemberdayaan masyarakat. Melalui pelatihan dan sosialisasi, petani bisa menjadi bagian dari transformasi digital di sektor pertanian.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (1)


HAM DANDIH
HAM DANDIH
2 bulan yang lalu SUPER SUBSCRIBER

Teknologi sudah lama tapi petani2 kita belum banyak memanfaatkannya padahal cukup membuat tenaga lebih efisien dan bisa mengelola lebih luas lahan