Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Infrastruktur Bagaimana BIM Membantu Mitigasi dan Rekonstruksi J...
Infrastruktur

Bagaimana BIM Membantu Mitigasi dan Rekonstruksi Jembatan Kewek Yogyakarta?

Bagaimana BIM Membantu Mitigasi dan Rekonstruksi Jembatan Kewek Yogyakarta?

Pemerintah Kota Yogyakarta mulai menyiapkan pembatasan kendaraan di Jembatan Kewek sebagai langkah darurat untuk menjaga keselamatan dan mencegah kerusakan struktural yang makin parah. Kebijakan ini sudah diterapkan mulai 10 Desember 2025, dengan fokus mengurangi beban kendaraan yang melintas agar tekanan pada struktur jembatan yang sudah melemah dapat diminimalkan. Hal ini menjadi penting karena jembatan yang telah berusia lebih dari satu abad tersebut kini berada dalam kondisi kritis dan dikhawatirkan tidak mampu lagi menahan beban berlebih, terutama saat akhir pekan dan musim liburan ketika arus kendaraan meningkat drastis.

Bagaimana BIM Membantu Mitigasi dan Rekonstruksi Jembatan Kewek Yogyakarta? - Gambar 1

Sebagai salah satu infrastruktur penting di pusat kota, Jembatan Kewek memiliki peran strategis menghubungkan kawasan Kotabaru dan Malioboro. Jembatan ini juga unik karena terdiri atas dua lapisan struktur, jembatan kereta api di bagian atas dan jembatan kendaraan di bagian bawah yang dikenal sebagai Jembatan Kleringan. Selain memegang fungsi vital, jembatan ini merupakan bagian dari sejarah panjang pembangunan kota. Seiring berjalannya waktu dan tingginya aktivitas kendaraan, kerusakannya makin parah sehingga diperlukan pendekatan perawatan dan rekonstruksi yang tidak hanya cepat, tetapi juga berbasis data dan terukur.

Melihat kompleksitas dan nilai historisnya, muncul pertanyaan mengenai bagaimana teknologi modern dapat membantu mengatasi permasalahan tersebut. Bisakah building information modeling (BIM) menjadi solusi strategis dalam menyelamatkan aset heritage sekaligus memastikan keberlanjutan infrastruktur penting ini?

Apa Itu BIM?

BIM merupakan sebuah metode untuk membuat serta mengelola representasi digital dari karakter fisik dan kinerja sebuah bangunan. Proses ini memanfaatkan beragam perangkat, teknologi, dan pengaturan kerja agar tujuan perencanaan dan pembangunan dapat tercapai. Model BIM berbentuk berkas digital yang dapat diambil, dibagikan, atau diintegrasikan dalam suatu sistem sehingga mendukung proses pengambilan keputusan. Perangkat lunak BIM biasanya digunakan oleh para perancang, pelaksana konstruksi, hingga pengelola dan pemelihara bangunan atau infrastruktur lainnya, seperti jaringan pipa, instalasi listrik, sistem komunikasi, jalan raya, jalur kereta, jembatan, pelabuhan, maupun terowongan.

Bagaimana BIM Membantu Mitigasi dan Rekonstruksi Jembatan Kewek Yogyakarta? - Gambar 2

Pemerintah Daerah Siapkan Langkah Taktis

Melihat kondisi dari Jembatan Kewek yang sudah dalam tahap kritis, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY pun telah menyiapkan berbagai rencana jangka panjang dan pendek. Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menuntut penanganan segera. Hasto mengungkapkan bahwa kondisi jembatan patah yang di ujungnya, mengalami pergeseran struktur hingga 3 sentimeter, penurunan 10 sentimeter, serta bagian bawah yang mulai anjlok membuat situasi ini tak lagi bisa ditunda. Dengan kekuatan jembatan yang diperkirakan hanya tersisa 20–30 persen, berbagai langkah mitigasi langsung harus diberlakukan.

Dalam jangka pendek, pembatasan akses diberlakukan hanya untuk kendaraan kecil, terutama sepeda motor, sementara kendaraan besar sepenuhnya dialihkan melalui Jembatan Kleringan yang akan beroperasi dua arah. Portal pembatas dimensi dan lampu APILL juga dipasang untuk memastikan kendaraan berat tidak lolos ke area Jembatan Kewek.

Bagaimana BIM Membantu Mitigasi dan Rekonstruksi Jembatan Kewek Yogyakarta? - Gambar 3

Sementara itu, untuk jangka panjang, pemerintah merencanakan pembangunan ulang jembatan dengan dukungan anggaran APBN 2026 sebesar Rp19 miliar. Meski tidak termasuk cagar budaya, elemen historisnya tetap akan dilestarikan sebagai bagian dari identitas kota. Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) pun menegaskan bahwa rekonstruksi menjadi satu-satunya pilihan yang realistis mengingat usia dan tingkat kerusakan jembatan, sebagaimana dilaporkan Kompas.com.

BIM Punya Solusi dari Tahap Perencanaan hingga Perawatan

Dalam proses penanganan tersebut, muncul pertanyaan mengenai bagaimana teknologi modern seperti BIM dapat mendukung mitigasi maupun rekonstruksi jembatan. Menanggapi hal itu, Irfani Nurul Huda dari GEOBIM, yang merupakan pelaku industri di Yogyakarta, menjelaskan bahwa BIM memiliki peran strategis meski bukan alat utama dalam tahap darurat. “Untuk jangka pendek, fokus pemerintah memang bukan BIM, tetapi pembatasan arus kendaraan dan inspeksi lapangan. Namun, pemindaian awal menggunakan laser scanner tetap penting sebagai data dasar sebelum rekonstruksi dilakukan,” ujar Irfani.

Bagaimana BIM Membantu Mitigasi dan Rekonstruksi Jembatan Kewek Yogyakarta? - Gambar 4

Namun, pria yang menjabat sebagai Research and Development dari GEOBIM tersebut menekankan bahwa Jembatan Kewek dibangun jauh sebelum era digital sehingga tidak memiliki basis data desain yang bisa langsung diterapkan ke BIM. “Idealnya, BIM digunakan sejak awal siklus hidup infrastruktur, dari desain sampai operasional. Pada kasus ini, kita masuk di tengah sehingga penerapannya bersifat reaktif, bukan preventif,” jelasnya. Meski demikian, BIM tetap sangat membantu dalam menganalisis kerusakan dan menyusun strategi teknis, termasuk menentukan apakah jembatan akan diperbarui atau dibongkar total.

Ketika membahas kemungkinan rekonstruksi yang tetap mempertahankan unsur heritage, Irfani menegaskan manfaat BIM dalam perencanaan ulang. “BIM memungkinkan simulasi struktur, perhitungan material, hingga pengurangan risiko kesalahan desain. Semua elemen dapat dimodelkan secara akurat sehingga keputusan teknis menjadi lebih presisi,” katanya. Lebih jauh, ia menjelaskan peluang integrasi BIM dengan sensor monitoring untuk membentuk sistem bridge health management yang mampu memantau kondisi jembatan secara real time, mulai dari defleksi hingga tingkat korosi. “Bridge health management memungkinkan perawatan berbasis data, bukan hanya inspeksi manual. Ini langkah strategis untuk jembatan yang ingin dikelola secara modern dan aman,” tegasnya.

Dengan pendekatan ini, pemerintah dapat beralih menuju sistem pengelolaan jembatan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Integrasi BIM memastikan setiap keputusan rekonstruksi didasarkan pada data yang akurat sehingga Jembatan Kewek dapat kembali berfungsi optimal tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat di dalamnya.

Saatnya Manfaatkan BIM untuk Manajemen Pengelolaan Bangunan

Pada akhirnya, keberadaan BIM tidak sekadar menghadirkan model tiga dimensi, melainkan menyediakan kerangka kerja digital yang mampu memperkaya proses pengambilan keputusan secara menyeluruh. Teknologi ini membantu meningkatkan keamanan, memprediksi potensi kerusakan, serta memperpanjang umur layanan berbagai infrastruktur penting.

Jembatan Kewek, sebagai ikon sejarah sekaligus jalur mobilitas utama di Yogyakarta, membutuhkan pendekatan modern untuk memastikan keberlanjutannya. Jika pemerintah memutuskan untuk mempertahankan dan memperbaruinya, BIM dapat menjadi fondasi utama dalam proses perencanaan, pemantauan, dan evaluasi sehingga jembatan tetap aman, fungsional, dan lestari bagi masyarakat di masa mendatang.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!