Sebuah langkah berani dan kontroversial dalam dunia neuroteknologi tengah diuji coba di Rusia. Neiry, perusahaan yang berbasis di Moskow, sedang mengembangkan Project PJN-1, sebuah sistem yang secara harfiah mengubah burung merpati hidup menjadi "*bio-drone*" otonom untuk tujuan pengawasan dan keamanan.
Dilansir dari United24 Media, proyek ini menggunakan pendekatan radikal dengan mengintervensi langsung sistem saraf hewan. Melalui elektroda yang ditanamkan di area spesifik otak burung, operator manusia dapat mengambil alih kendali jalur terbang merpati dari jarak jauh. Teknologi ini menandai babak baru dalam upaya menggabungkan makhluk hidup dengan mesin untuk kepentingan taktis.
Mekanisme Kendali Saraf Bertenaga Surya
Metode transformasi merpati menjadi pesawat udara nirawak biologis (bio-UAV) atau bio-drone ini melibatkan integrasi perangkat keras yang canggih. Setiap burung dilengkapi dengan "ransel" ringkas di punggungnya yang berfungsi sebagai pusat kendali mandiri. Ransel ini berisi perangkat elektronik, perangkat keras komunikasi, dan penerima GPS untuk navigasi presisi.
Kunci dari sistem ini adalah elektroda khusus yang dikembangkan Neiry. Perintah kendali ditransmisikan secara nirkabel dari operator ke ransel, yang kemudian meneruskan sinyal berupa impuls ke elektroda di otak burung. Pengontrol di ransel menerima tugas penerbangan yang telah dimuat sebelumnya, sementara stimulator mengirimkan impuls yang memengaruhi motivasi burung untuk berbelok ke kiri atau kanan sesuai keinginan operator. Neiry mengklaim sistem ini memungkinkan pengendalian individu burung maupun seluruh kawanan secara real-time dengan mengunggah jalur penerbangan baru melalui antarmuka saraf.
Jangkauan Operasional Ribuan Kilometer
Aspek paling revolusioner dari bio-drone ini terletak pada jangkauan operasionalnya. Ransel pengendali ditenagai sepenuhnya oleh energi matahari, yang memungkinkan misi berdurasi panjang tanpa ketergantungan pada pengisian daya konvensional. Menurut data Neiry, seekor merpati bio-drone PJN-1 mampu terbang sekitar 500 km dalam satu hari penerbangan terus-menerus. Dalam kondisi cuaca yang menguntungkan dengan sinar matahari optimal, burung yang sama bahkan dapat menempuh jarak lebih dari 2.900 km dalam kurun waktu seminggu. Pemilihan merpati sebagai subjek uji coba bukan tanpa alasan. Neiry menilai merpati adalah pilihan masuk akal karena populasinya yang sangat umum di kota-kota Rusia, memungkinkan mereka menavigasi lingkungan perkotaan yang padat tanpa menarik perhatian. Ke depan, perusahaan berencana memperluas jangkauan dengan spesies burung lain untuk beradaptasi dengan beragam kondisi lingkungan dan kebutuhan muatan (payload).
Perusahaan menargetkan penggunaan bio-drone ini untuk berbagai misi jangka panjang, mulai dari pemantauan jalur transmisi listrik dan simpul distribusi gas, survei lingkungan, inspeksi industri, hingga misi pencarian dan penyelamatan (SAR). Neiry menyatakan bahwa harga setiap bio-drone sebanding dengan drone kelas serupa, tetapi jangkauan dan daya tahannya "ratusan kali" lebih unggul.
Saat ini, kawanan merpati pertama yang ditanami antarmuka saraf telah berhasil menyelesaikan uji penerbangan dari laboratorium dan kembali. Perusahaan kini tengah memeriksa "karakteristik penerbangan" dari puluhan burung yang telah dipasangi cip. Beberapa di antaranya dijadwalkan untuk uji coba terbang ribuan kilometer jauhnya, sementara yang lain tetap di Moskow untuk pengujian lebih lanjut.
Namun, sebagaimana dilaporkan Vietnam.vn, uji coba ini memicu kontroversi etika yang mendalam. Meskipun menawarkan lompatan teknis yang signifikan, penggunaan teknologi untuk memanipulasi tubuh hewan hidup, terutama bagi kepentingan pengawasan atau militer, dinilai problematis secara etis.
