Pemanfaatan wahana udara nirawak atau unmanned aerial vehicle (UAV) di wilayah pedesaan Tiongkok menandai perubahan besar dalam cara pemerintah mengelola ruang dan menjaga keamanan desa. Jika sebelumnya UAV lebih dikenal sebagai alat bantu pengumpulan data, kini teknologi ini menjadi sarana penting untuk mengawasi wilayah perdesaan yang luas, terpencar, dan sulit dijangkau. Dengan melihat kondisi wilayah dari udara, pemerintah dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh dan akurat sehingga keputusan terkait keamanan dan penataan ruang bisa diambil dengan lebih cepat dan tepat.
Dilansir dari ANTARA, penerapan nyata terlihat di Distrik Qilin, Kota Qujing, Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya. Di wilayah ini, pemerintah daerah mengintegrasikan UAV ke dalam sistem komando terpadu. Melalui uji coba di tiga komunitas inti di Yuezhou, dibangun enam pangkalan UAV yang membentuk jaringan pengawasan menyeluruh. Jaringan ini memungkinkan pemantauan wilayah dilakukan secara berlapis dan berkelanjutan sehingga area-area yang sebelumnya luput dari pengawasan patroli darat kini dapat terpantau dengan baik.
Dari sisi efisiensi, penggunaan UAV membawa perubahan yang sangat terasa. Patroli manual yang sebelumnya membutuhkan waktu hampir seharian untuk menjangkau daerah terpencil kini dapat digantikan oleh pemantauan udara yang hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Dengan kecepatan ini, UAV mampu mendeteksi berbagai potensi masalah sejak dini, seperti titik api kebakaran hutan atau munculnya bangunan ilegal, sehingga respons dapat dilakukan lebih cepat berdasarkan lokasi yang jelas.
Dalam upaya pencegahan kebakaran hutan, UAV berfungsi layaknya mata di udara yang terus memantau kondisi alam. Perubahan visual pada lahan dan tanda-tanda panas dapat terdeteksi lebih awal sebelum api meluas. Di sektor pertanian, citra udara yang diambil secara berkala dibandingkan untuk melihat perubahan penggunaan lahan. Cara ini membantu pemerintah melindungi lahan budi daya dari aktivitas ilegal yang dapat merugikan petani dan mengancam ketahanan pangan desa.
UAV juga dimanfaatkan dalam pengelolaan ruang publik sehari-hari. Dengan dukungan gambar real-time dan fitur pengeras suara, petugas dapat menertibkan pedagang yang menggunakan badan jalan atau kendaraan yang parkir sembarangan tanpa harus selalu hadir di lokasi. Pendekatan ini membuat penegakan aturan menjadi lebih praktis dan efisien.
Secara keseluruhan, penerapan UAV di Qujing menunjukkan bagaimana teknologi geospasial mampu memperkuat tata kelola dan keamanan pedesaan. Dengan mengatasi keterbatasan waktu, tenaga, dan jangkauan patroli manual, UAV membuka peluang baru bagi pembangunan desa yang lebih aman, tertata, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan di Tiongkok.
