Benua Afrika yang menyimpan sekitar seperempat keanekaragaman hayati dunia kini berada di bawah tekanan serius. Dalam kurun 50 tahun terakhir, populasi satwa liar di kawasan ini tercatat menurun hingga 76 persen. Penurunan tersebut bukan hanya menjadi alarm bagi kelestarian lingkungan, melainkan juga mengancam keberlanjutan hidup jutaan masyarakat yang menggantungkan kebutuhan pangan, air, dan penghidupan dari ekosistem alam. Di tengah situasi itu, African Wildlife Foundation mengambil langkah strategis dengan meluncurkan Geospatial Leaders Fellowship, sebuah program kaderisasi anak muda yang difokuskan pada penguatan kapasitas analisis geospasial untuk menjawab tantangan konservasi sekaligus pembangunan berkelanjutan.
Dilansir dari Africa Solutions Media Hub, program ini lahir dari kesadaran bahwa data spasial dan pemetaan kini memegang peranan penting dalam pengelolaan sumber daya alam. Melalui teknologi sistem informasi geografis (SIG), berbagai data lapangan, citra satelit, dan informasi sosial ekonomi dapat diintegrasikan menjadi peta analisis yang mampu memberikan gambaran utuh suatu wilayah. Pendekatan ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih akurat dan berbasis bukti sehingga upaya konservasi tidak lagi bertumpu pada asumsi, melainkan pada analisis spasial yang terukur dan relevan dengan kondisi nyata di lapangan.
Selama 10 bulan pelaksanaan program, para peserta dibekali keterampilan teknis SIG yang aplikatif dan kontekstual. Mereka mempelajari pemantauan deforestasi berbasis citra satelit, pemetaan koridor satwa liar, analisis konflik antara manusia dan satwa, hingga perencanaan tata guna lahan yang berwawasan lingkungan. Rangkaian pembelajaran ini menempatkan analisis geospasial sebagai alat strategis untuk membaca pola kerusakan ekosistem, menentukan wilayah prioritas konservasi, serta merancang intervensi yang selaras dengan kebutuhan manusia dan alam.
Keterkaitan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat menjadi benang merah dalam fellowship ini. Lebih dari 60 persen masyarakat perdesaan Afrika masih bergantung pada hutan, sungai, dan ekosistem alami lainnya sebagai sumber penghidupan. Oleh karena itu, hasil analisis geospasial yang dihasilkan peserta diharapkan tidak hanya melindungi satwa dan habitatnya, tetapi juga mendorong perencanaan pembangunan yang adil dan berkelanjutan bagi komunitas lokal.
Program ini terbuka bagi warga negara Afrika berusia di bawah 35 tahun yang memiliki latar belakang pendidikan relevan serta pengalaman minimal dua tahun di bidang SIG atau lingkungan. Dari proses seleksi tersebut, enam peserta akan dipilih untuk angkatan 2026. Mereka akan mengikuti pembelajaran daring, lokakarya tatap muka di Nairobi, serta mengerjakan proyek terapan yang langsung menyasar persoalan konservasi nyata di wilayah masing-masing.
Melalui inisiatif ini, AWF menilai bahwa investasi pada generasi muda yang melek teknologi geospasial menjadi kunci di tengah krisis lingkungan yang kian berdampak pada ekonomi dan masa depan komunitas Afrika. Dengan kemampuan membaca dan memanfaatkan data spasial, para calon pemimpin ini diharapkan mampu menjembatani kepentingan konservasi dan pembangunan, sehingga alam dan manusia dapat tumbuh bersama secara berkelanjutan.
