Fenomena lubang raksasa di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, dilaporkan terus meluas hingga mencapai luas total tiga hektare. Berdasarkan pantauan terbaru Dinas ESDM Aceh pada awal 2026, fenomena geologi ini mengalami peningkatan luas yang signifikan akibat kombinasi cuaca ekstrem dan struktur tanah yang tidak stabil.
Data pemetaan menunjukkan bahwa luasan lubang tersebut kini menyentuh angka 30.000 meter persegi. Angka ini melonjak tajam jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2021 yang saat itu tercatat seluas 20.199 meter persegi. Penambahan luasan terjadi secara bertahap setiap tahun seiring tingginya intensitas hujan di wilayah dataran tinggi tersebut.
Analisis Geologi Formasi Geureudong
Secara teknis, material tanah di lokasi lubang berasal dari formasi Geureudong. Material ini merupakan hasil aliran piroklastik dari Gunung Geureudong, sebuah gunung api tidak aktif tipe B di Bener Meriah yang usianya jauh lebih tua dibandingkan Gunung Burni Telong.
Karakteristik material vulkanik di kawasan ini memiliki sifat yang unik sekaligus berbahaya bagi stabilitas lereng:
- Struktur Lepas: Batuan vulkanik didominasi oleh tufa yang bersifat lepas dan berongga.
- Daya Serap Tinggi: Material ini sangat mudah menyerap air sehingga menjadi sangat berat dan tidak stabil saat berada dalam kondisi jenuh.
- Kemiringan Ekstrem: Lereng di sekitar lokasi memiliki kemiringan sangat terjal hingga hampir tegak.
Plt Badan Geologi ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa meskipun fenomena ini mirip dengan sinkhole (lubang amblas), terdapat perbedaan mendasar pada jenis batuan yang terlibat. "Fenomena sinkhole memang identik dengan batuan gamping, namun kejadian di Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah, membuktikan bahwa material vulkanik juga memiliki kerentanan serupa, meski dengan mekanisme yang sedikit berbeda," ujar Lana Saria pada Minggu 1 Februari 2026, dikutip dari Pojoksatu.id.
Badan Geologi menilai bahwa aktivitas manusia dan faktor hidrologi mempercepat laju perluasan lubang. Keberadaan saluran irigasi di bagian selatan lereng menjadi salah satu pemicu utama, terutama saat debit air meluap atau meresap ke dalam batuan tufa yang gembur.
Proses pengikisan tebing ke arah samping oleh aliran air atau erosi lateral juga memperlebar lembah secara terus-menerus. Kondisi ini membuat massa batuan bertambah berat sehingga memicu longsoran dan runtuhan baru di area tebing.
"Hal ini membuat lereng tidak stabil dan jenuh air sehingga batuan menjadi gembur dan berat massa batuan bertambah, ditambah dengan adanya erosi lateral oleh rembesan air yang berada pada bagian lembah lereng menyebabkan terjadinya longsoran dan runtuhan batuan," terang Lana.
