Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Infrastruktur ORPA Perkuat Kemandirian Satelit Indonesia Lewat P...
Infrastruktur

ORPA Perkuat Kemandirian Satelit Indonesia Lewat Peluncuran Tiga Satelit Observasi Bumi

ORPA Perkuat Kemandirian Satelit Indonesia Lewat Peluncuran Tiga Satelit Observasi Bumi

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) terus memperkuat kemandirian teknologi satelit Indonesia sebagai bagian dari penguatan kapasitas geospasial nasional. Upaya ini diwujudkan melalui pengembangan dan pengoperasian satelit LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3, yang masing-masing memiliki peran strategis dalam mendukung observasi Bumi, mitigasi bencana, serta pemantauan wilayah maritim. Keberadaan satelit-satelit tersebut menjadi fondasi penting dalam penyediaan data spasial nasional yang andal, berkelanjutan, dan berdaulat, khususnya untuk negara kepulauan seperti Indonesia yang memiliki wilayah luas dan beragam.

Satelit LAPAN-A1 merupakan tonggak awal pengembangan satelit nasional yang dikembangkan melalui kolaborasi periset Indonesia dengan Universitas Teknik Berlin. Satelit berorbit polar ini melintasi wilayah Indonesia sekitar empat hingga enam kali per hari sehingga memungkinkan pengumpulan data spasial dengan frekuensi tinggi. Diluncurkan pada 10 Januari 2007 menggunakan roket PSLV C7 milik India, LAPAN-A1 difokuskan pada misi observasi Bumi. Dalam konteks geospasial, pola orbit polar sangat mendukung pemetaan wilayah tropis yang dinamis, meskipun saat ini fungsi utama kameranya telah berhenti dan satelit hanya dapat menerima perintah dari stasiun kendali.

Penguatan kapasitas nasional berlanjut melalui pengembangan LAPAN-A2, yang seluruh proses rancang bangunnya dilakukan di dalam negeri bekerja sama dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI). Satelit ini diluncurkan pada 28 September 2015 menggunakan roket PSLV C30 dan hingga kini masih beroperasi dengan baik. LAPAN-A2 memiliki nilai strategis karena menggabungkan fungsi observasi Bumi, mitigasi bencana, serta pemantauan kapal melalui sistem automatic identification system (AIS). Data spasial yang dihasilkan mendukung pemantauan wilayah pesisir dan jalur pelayaran, yang sangat penting bagi pengelolaan keamanan dan ekonomi maritim Indonesia.

Selanjutnya, LAPAN-A3 dikembangkan bersama Institut Pertanian Bogor dan diluncurkan pada 22 Juni 2016. Satelit ini memiliki kemampuan AIS dengan cakupan global serta dilengkapi kamera multispektral untuk pemantauan vegetasi. Data multispektral LAPAN-A3 berperan penting dalam memantau perubahan tutupan lahan, kondisi pertanian, dan dinamika lingkungan sehingga dapat dimanfaatkan untuk perencanaan pembangunan berbasis data.

Ke depan, Indonesia tengah mengembangkan satelit generasi keempat, NEO-1, yang saat ini memasuki tahap pengujian dan integrasi dengan rencana peluncuran pada akhir 2026. NEO-1 diproyeksikan meningkatkan kualitas data observasi Bumi nasional dari sisi resolusi dan akurasi. Seluruh satelit nasional ini dikendalikan melalui jaringan stasiun bumi BRIN di Bogor, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua, membentuk sistem geospasial terpadu yang memperkuat kemandirian dan kedaulatan data spasial Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!