Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi kemunculan tiga bibit siklon tropis secara bersamaan yang memicu anomali cuaca signifikan di berbagai wilayah Indonesia. Keberadaan Bibit Siklon 94W, 92S, dan 98P menyebabkan terbentuknya daerah konvergensi serta perlambatan angin yang berpotensi mendatangkan hujan lebat hingga sangat lebat.
Dilansir dari ANTARA, Prakirawati BMKG Yuyun Wulandari menjelaskan bahwa ketiga sistem ini berada di posisi yang berbeda, tetapi secara kolektif memengaruhi dinamika atmosfer regional. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi dalam beberapa hari ke depan.
Pemetaan Tiga Bibit Siklon
Yuyun memetakan posisi dan pergerakan tiga bibit siklon tropis yang saat ini memengaruhi dinamika cuaca. Bibit siklon 94W terpantau berada di Samudera Pasifik bagian utara Papua dengan tekanan udara mencapai 1.005 hektopaskal. Sistem ini bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan angin antara 20 hingga 25 knot. Walaupun memengaruhi kondisi atmosfer di perairan utara Papua, kemungkinan bibit 94W untuk menguat menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan masih tergolong rendah.
Sementara itu, bibit siklon 92S terdeteksi di Samudera Hindia bagian barat daya Lampung. Karakteristik sistem ini cenderung menetap atau stasioner di lokasi tersebut. Keberadaan 92S memicu terbentuknya pola belokan dan hambatan laju angin yang memanjang dari Samudera Hindia hingga ke wilayah selatan Banten. Hingga saat ini, potensi bibit 92S untuk berkembang menjadi siklon tropis juga dinilai masih minim.
Sistem ketiga yang menjadi perhatian adalah bibit siklon 98P yang berlokasi di daratan Australia. Memiliki tekanan udara sekitar 1.006 hektopaskal, sistem ini bergerak ke arah barat dengan kecepatan 20 knot. Pengaruhnya mencakup wilayah pesisir utara Australia sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap dinamika atmosfer di kawasan regional.
Kombinasi dari ketiga bibit siklon tersebut, ditambah sirkulasi siklonik di barat daya Bengkulu dan Sumatera Utara, mempercepat pertumbuhan awan hujan. BMKG memprediksi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur wilayah berikut.
- DKI Jakarta
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Nusa Tenggara Timur (NTT)
- Sulawesi Selatan
Selain wilayah tersebut, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga berpotensi terjadi di daratan Aceh, Sumatera Utara, dan sekitar Laut Andaman akibat adanya pola perlambatan angin. BMKG mengingatkan bahwa kondisi atmosfer saat ini sangat dinamis. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir, tanah longsor, maupun wilayah pesisir diminta untuk terus memantau pemutakhiran data melalui kanal resmi BMKG.
