Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Opini 5 Centimeters per Second Jadi Bukti bahwa Relasi M...
Opini

5 Centimeters per Second Jadi Bukti bahwa Relasi Manusia terhadap Ruang Begitu Rapuh

5 Centimeters per Second Jadi Bukti bahwa Relasi Manusia terhadap Ruang Begitu Rapuh

Di era modern, pembangunan kota dan percepatan mobilitas kerap dipandang sebagai simbol kemajuan. Rel kereta diperpanjang, jaringan transportasi diperhalus, dan jarak geografis seolah dipangkas oleh teknologi. Namun, di balik ilusi kedekatan itu, tersimpan paradoks yang jarang disadari, di mana “makin cepat ruang bergerak, makin rapuh relasi manusia yang hidup di dalamnya”. Gagasan inilah yang secara puitis dan sunyi dihadirkan dalam 5 Centimeters per Second, karya Makoto Shinkai. Film yang baru saja mendapatkan adaptasi live action ini menjadikan jarak dan laju pembangunan bukan sekadar latar visual, melainkan juga antagonis tak kasat mata yang perlahan menggerus hubungan manusia tanpa perlu konflik besar atau tragedi eksplisit.

Cerita dalam film ini berfokus pada perjalanan Takaki Tono dan Akari Shinohara dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Setiap fase hidup mereka ditandai oleh pergerakan ruang: perpindahan sekolah, perjalanan kereta jarak jauh, hingga kehidupan dewasa yang terpisah secara geografis. Adegan-adegan perjalanan bukan sekadar transisi naratif, melainkan juga penanda perubahan ritme hidup. Kereta yang melaju, stasiun yang silih berganti, dan kota yang terus berubah menegaskan bahwa mobilitas bukan hanya soal berpindah tempat, tetapi juga soal bagaimana waktu dirasakan dan bagaimana relasi diuji oleh jarak yang kian normal.

Lalu, realitas modern apakah yang disinggung dalam 5 Centimeters per Second? Realitas urban apakah yang membuat relasi manusia dan ruang menjadi begitu rapuh?

Manusia yang Harus Tunduk pada Ruang

Film ini secara halus menyinggung realitas urban kontemporer, ketika manusia harus tunduk pada struktur ruang dan waktu yang dibentuk oleh modernitas. Rutinitas komuter, tuntutan akademik, dan kewajiban pekerjaan menciptakan ritme hidup yang kaku. Dalam ritme tersebut, relasi personal dipaksa untuk menyesuaikan diri atau perlahan memudar. Pembangunan kota yang berorientasi pada efisiensi justru menyisakan sedikit ruang bagi keterhubungan emosional yang mendalam dan berkelanjutan. Ruang tidak lagi mengikuti kebutuhan relasi, melainkan relasi yang harus beradaptasi pada logika ruang.

Dalam konteks ini, gagasan non-place dari Marc Augé menjadi kunci pembacaan yang relevan. Non-place merujuk pada ruang-ruang sementara dalam supermodernitas, seperti bandara, stasiun, jalan tol, atau kereta, di mana hubungan sosial, sejarah, dan identitas menjadi kabur. Penghuninya hadir sebagai pengguna anonim, bukan sebagai bagian dari tempat yang memiliki makna. Ruang-ruang ini ditandai oleh sirkulasi dan efisiensi, bukan oleh keterikatan emosional.

Baca juga: Memahami “Non-Place” Marc Auge: Ketika Ruang Tidak Memiliki Identitas dan Memori Histori

Salah satu momen dramatis dalam film ketika Takaki berusaha menemui Akari di tengah badai salju yang digambarkan lewat perjalanan panjang dengan kereta menjadi simbol betapa sulitnya mempertahankan kedekatan ketika ruang dan waktu mulai berkuasa. Pertemuan mereka hangat, tetapi juga dipenuhi kesadaran bahwa kebersamaan itu rapuh. Relasi yang terjadi di dalam non-place tidak ditopang oleh kontinuitas ruang dan waktu yang stabil sehingga pertemuan menjadi peristiwa langka, sementara perpisahan berlangsung perlahan, tetapi pasti.

Film ini dipenuhi oleh non-place semacam itu. Takaki kerap digambarkan berada di ruang antara, menunggu kereta, melintas di stasiun, atau duduk diam di gerbong yang bergerak. Ia hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar terikat pada ruang tempatnya berada. 

Ketika relasi tidak lagi terjaga oleh kehadiran fisik, memori mengambil alih peran utama. Dalam 5 Centimeters per Second, kenangan masa lalu justru terasa lebih hidup dibandingkan hubungan yang nyata. Ruang-ruang yang pernah menjadi saksi kebersamaan berubah menjadi penanda nostalgia. Namun, nostalgia bersifat ambigu, ia menghangatkan sekaligus menyakitkan. Kehilangan ruang bersama berarti kehilangan kemungkinan untuk memperbarui relasi, yang tersisa hanyalah ingatan yang terikat pada ruang yang sudah tak lagi dihuni bersama.

Tidak ada momen dramatis yang secara tegas memutus hubungan Takaki dan Akari. Yang ada hanyalah jarak kecil yang terus terakumulasi, seperti pembangunan kota yang berlangsung bertahap, mulai dari Akari pindah sekolah akibat tuntutan pekerjaan orang tuanya, momen dramatis pertemuan saat musim salju, hingga jarak geografis dan tuntutan pekerjaan yang membuat jarak mereka benar-benar permanen. Akhirnya, relasi keduanya harus tunduk pada laju ruang yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk bertahan.

 

5 Centimeters per Second Jadi Bukti bahwa Relasi Manusia terhadap Ruang Begitu Rapuh - Gambar 1
Relasi Takaki dan Akari yang kian tergerus jarak seiring pembangunan memaksa manusia lebih sering berada di non-place

Relasi Manusia yang Tergerus Laju Pembangunan

Film ini pada akhirnya memperlihatkan bahwa mobilitas tinggi tidak selalu berarti kedekatan. Makin mudah seseorang berpindah ruang, makin rapuh relasi yang bergantung pada kontinuitas kehadiran. Non-place menjadi ruang dominan dalam kehidupan sehari-hari, menggantikan ruang komunal yang memungkinkan interaksi mendalam. Relasi manusia pun bergeser dari kehadiran nyata menuju kenangan, pesan singkat, dan penantian yang tak selalu berujung pertemuan.

5 Centimeters per Second menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana ruang membentuk pengalaman emosional manusia. Film ini menunjukkan bahwa kota dan sistem ruang modern tidak hanya mengatur pergerakan fisik, tetapi juga memengaruhi cara manusia mencinta, menunggu, dan melepaskan. Relasi manusia terhadap ruang terbukti begitu rapuh, mudah tergerus oleh jarak, waktu, dan rutinitas. Sesuai dengan judul 5 Centimeters per Second yang merujuk pada kecepatan jatuhnya kelopak bunga sakura, simbol yang lembut namun sarat makna tersebut menggambarkan laju pembangunan yang cepat dan membuat manusia kehilangan relasinya dengan ruang.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!