Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Kebencanaan Pakar Geografi UMS Beberkan Penyebab dan Cara Miti...
Kebencanaan

Pakar Geografi UMS Beberkan Penyebab dan Cara Mitigasi Sinkhole

Pakar Geografi UMS Beberkan Penyebab dan Cara Mitigasi Sinkhole

Fenomena amblasnya permukaan tanah secara tiba-tiba, atau sering disebut sinkhole, kini menjadi ancaman nyata yang dipicu oleh kombinasi karakteristik geologis dan aktivitas manusia yang tidak terkontrol. Pakar geografi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa stabilitas tanah kini sangat bergantung pada disiplin tata kelola lahan serta pemanfaatan air tanah.

Secara akademis, sinkhole didefinisikan sebagai peristiwa runtuhnya permukaan tanah ke bawah akibat keberadaan rongga besar di lapisan bawah tanah.

“Gampangnya adalah tiba-tiba permukaan tanah runtuh ke bawah akibat di bagian bawahnya ada rongga besar sehingga bagian atasnya kolaps,” jelas pakar geografi UMS, M. Iqbal Taufiqurrahman Sunariya, S.Si., M.Sc., M.U.R.P. dalam sesi edukasi pada Jumat, 30 Januari 2026.

Pakar Geografi UMS Beberkan Penyebab dan Cara Mitigasi Sinkhole - Gambar 1
Pakar geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta, M. Iqbal Taufiqurrahman Sunariya, S.Si., M.Sc., M.U.R.P.

Kawasan Karst dan Proses Kimiawi Alam

Wilayah dengan bentang alam karst atau batu gamping merupakan area yang paling rentan terhadap fenomena ini. Dilansir dari CNBC Indonesia, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Adrin Tohari menjelaskan bahwa proses pembentukan lubang ini berlangsung dalam waktu lama dan dipicu oleh air hujan yang bersifat asam.

Air hujan menjadi asam karena menyerap karbon dioksida (CO2) dari udara dan permukaan tanah. Saat air ini meresap ke dalam retakan batu gamping, terjadilah pelarutan yang secara bertahap membentuk jaringan sungai bawah tanah yang sulit teridentifikasi secara visual.

Beberapa daerah di Indonesia yang tercatat memiliki kerawanan tinggi meliputi Gunungkidul, Pacitan, dan Maros. Hal ini disebabkan oleh lapisan batu gamping yang cukup tebal di bawah permukaan tanah wilayah tersebut.

Pakar Geografi UMS Beberkan Penyebab dan Cara Mitigasi Sinkhole - Gambar 2
Ilustrasi terjadinya sinkhole.

Ancaman Sinkhole di Kawasan Perkotaan

Meskipun identik dengan kawasan karst, sinkhole juga mengancam wilayah non-karst, seperti perkotaan yang memiliki lapisan tanah partikel halus. Iqbal menyebutkan bahwa  pemicu utama amblesan di kota besar adalah pengambilan air tanah secara masif dan cepat oleh sektor komersial.

“Di wilayah lain bisa saja terjadi, terutama yang lapisan tanahnya dari partikel halus, seperti lempung, lanau, dan pasir halus,” ungkap Iqbal, dikutip dari laman resmi UMS.

Selain eksploitasi air tanah, ancaman serius lainnya berasal dari:

  • Erosi Bawah Permukaan: Kebocoran pipa air yang mengikis partikel tanah.
  • Pemanfaatan Ruang Bawah Tanah: Konstruksi terowongan atau gedung bertingkat yang tidak sesuai standar teknis.
  • Intensitas Hujan Tinggi: Cuaca ekstrem yang memperparah kondisi tanah yang sudah rapuh akibat alih fungsi lahan di daerah hulu.

Teknologi Mitigasi dan Deteksi Dini

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan sinkhole adalah kemunculannya yang sering tanpa tanda-tanda jelas di permukaan. Namun, Adrin Tohari menegaskan bahwa keberadaan rongga dapat diidentifikasi melalui survei geofisika.

"Metode seperti gaya berat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah. Metode ini memberikan gambaran citra kondisi bawah permukaan sehingga potensi sinkhole bisa diantisipasi lebih dini," jelas Adrin.

Secara visual, masyarakat di kawasan karst juga dapat melakukan deteksi mandiri dengan mewaspadai munculnya retakan tanah yang berbentuk melingkar. “Kalau di kawasan karst, cirinya ada retakan yang berbentuk melingkar, itu artinya memungkinkan di bawahnya sudah ada rongga,” tambah Iqbal.

Iqbal mengkritisi bahwa meskipun regulasi tata ruang di Indonesia sudah cukup baik, aspek pengawasan dan monitoring di lapangan masih menjadi titik lemah. Ia mendorong pemerintah untuk lebih disiplin dalam mengawasi izin pengambilan air tanah, terutama oleh pihak industri dan perhotelan.

“Perencanaan kita sudah baik, namun ketika masuk ke penerapan dan monitoring, di situlah kita lemah,” tegas Iqbal.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!