Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berdiri di atas Cekungan Yogyakarta (Yogyakarta Basin), sebuah struktur geologi kompleks yang menyimpan potensi risiko guncangan berbeda di tiap titiknya. Keberadaan Sesar Opak yang aktif sejak zaman Kapur Akhir memicu terbentuknya sub-cekungan yang kini terisi oleh endapan vulkanik tebal dari Gunung Merapi Muda. Namun, karakteristik tanah di wilayah ini tidaklah seragam, terdapat kontras tajam antara zona tanah lunak yang berbahaya dengan zona batuan keras yang lebih stabil.
Secara fisiografi, wilayah ini merupakan bagian dari zona depresi Solo yang terjepit di antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulonprogo. Fenomena geologi masa kini, termasuk gempa dahsyat pada 27 Mei 2006, sangat dipengaruhi oleh ketebalan sedimen yang menutupi batuan dasar tersier di bawahnya.
Bahaya Efek "Puding dalam Mangkuk"
Para ahli sering menganalogikan kondisi geologi Yogyakarta seperti sebuah mangkuk berisi puding. Batuan dasar yang keras adalah mangkuknya, sementara endapan pasir dan abu vulkanik di atasnya adalah puding. Saat terjadi gempa, guncangan akan mengalami amplifikasi atau pembesaran pada lapisan tanah lunak ini. Hal ini menyebabkan ayunan gempa terasa lebih kuat dan bertahan lebih lama, yang berakibat fatal bagi struktur bangunan.
Menurut analisis yang dibagikan Anna Ariesta berdasarkan data Peta Geologi Yogyakarta, berikut adalah wilayah yang masuk dalam zona endapan tebal dengan risiko guncangan tinggi.
- Kota Yogyakarta (Seluruh Wilayah): Wilayah kota didominasi oleh endapan tebal, terutama di sisi selatan dan timur, seperti Umbulharjo, Kotagede, Mergangsan, Danurejan, dan Gondokusuman.
- Kabupaten Bantul (Zona Tengah dan Utara): Area ini mengalami kerusakan terparah pada 2006 karena efek tanah lunak. Wilayahnya mencakup Banguntapan (jalur limpahan lahar purba), Sewon, Kasihan, Jetis, Pleret (area datar), dan Bambanglipuro.
- Kabupaten Sleman (Zona Tengah dan Selatan): Meskipun materialnya bercampur batu besar, wilayah seperti Depok (Seturan, UGM), Mlati, Gamping, Kalasan, dan Ngaglik tetap masuk kategori risiko tinggi.
Berbanding terbalik dengan zona endapan, terdapat beberapa wilayah di DIY yang relatif lebih aman dari efek amplifikasi guncangan. Wilayah-wilayah ini berdiri di atas formasi batuan keras, seperti kapur, breksi tua, atau batuan dasar yang tidak tertutup endapan vulkanik tebal. Secara umum, guncangan di area ini biasanya terasa lebih minim.
Berikut adalah daftar kecamatan yang termasuk dalam pengecualian area tanah keras.
- Kabupaten Gunungkidul: Wilayah Patuk dan Wonosari yang didominasi oleh formasi batuan kapur.
- Kabupaten Bantul (Sisi Timur dan Selatan): Wilayah perbukitan, seperti Dlingo dan Piyungan (area atas bukit), serta Pajangan yang terdiri atas formasi batuan breksi tua.
- Kabupaten Sleman (Sisi Utara dan Timur): Wilayah Prambanan, khususnya di sekitar kompleks perbukitan Ratu Boko.
Perkembangan sub-cekungan Yogyakarta merupakan cerminan dari dinamika Sesar Opak yang menjadi manifestasi pergeseran sinistral struktur utama Pulau Jawa. Berdasarkan penelitian berjudul "Pemodelan Geologi Sub-cekungan Yogyakarta", sesar ini terlihat jelas sebagai Principles Displacement Zone. Selain risiko amplifikasi, zona endapan tebal juga menyimpan ancaman likuifaksi (tanah bergerak) di titik-titik dengan muka air tanah yang dangkal. Dengan demikian, memahami peta sebaran tanah keras dan tanah lunak ini menjadi krusial dalam perencanaan tata ruang dan standar konstruksi.