Dan Brown kembali menggelitik pembacanya lewat novel kelima miliknya yang berjudul Origin. Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang jauh membahas jaringan persaudaraan kuno, seperti Illuminati dalam Demon and Angels, Freemason di The Lost Symbol, serta yang paling kontroversial Biarawan Sion yang diceritakan dalam The Da Vinci Code, Origin menandai pergeseran fokus menuju masa depan umat manusia, terutama relasi antara manusia, teknologi, dan ruang.
Dari segi cerita, Origin mengikuti perjalanan Robert Langdon dalam mengungkap temuan revolusioner Edmond Kirsch, seorang futuris dan ilmuwan visioner. Temuan tersebut tidak sekadar menjawab pertanyaan “dari mana kita berasal”, tetapi juga “ke mana kita akan pergi”. Brown menempatkan teknologi bukan sebagai latar pendukung cerita, melainkan sebagai aktor utama yang menggerakkan konflik. Kota-kota, seperti Barcelona dan Bilbao, diperlakukan sebagai ruang hidup tempat ide-ide futuristik, data, dan simbol saling hidup berdampingan, yang menjadi gambaran jelas dari kehidupan manusia modern yang tidak lepas dari teknologi.
Menariknya, dalam novel yang menghadirkan narasi yang memadukan sains, teknologi, seni, dan filsafat dalam balutan triler intelektual tersebut, lahir sebuah gagasan yang dikenal dengan ‘Technium’ yang dicetuskan oleh Edmond Kirsch.
Lalu apakah gagasan Technium yang dimaksud dalam Origin tersebut? Lalu apakah hubungan antara gagasan fiksi tersebut dengan perkembangan teknologi geospasial di dalam kehidupan umat manusia?
Apa Itu Gagasan Technium?
Dalam Origin, Technium adalah istilah yang digunakan Edmond Kirsch untuk menyebut “Kingdom ke-7” dalam klasifikasi kehidupan. Jika biologi tradisional mengenal enam kingdom, Kirsch berargumen bahwa teknologi telah berkembang melampaui batas yang bisa dipahami oleh manusia. Sistem teknologi tersebut digambarkan menjadi sistem yang hidup, berevolusi, dan memiliki logika keberlanjutan sendiri. Teknologi, dalam pandangan ini, tidak lagi sepenuhnya dikendalikan manusia, tetapi justru membentuk arah perkembangan peradaban.
Winston, AI yang mendampingi Robert Langdon, adalah representasi konkret Technium. Ia mampu mengambil keputusan mandiri, beradaptasi dengan situasi, dan bahkan melakukan tindakan yang tidak sepenuhnya diprediksi penciptanya. Ciri-ciri ini menegaskan argumen Kirsch bahwa teknologi telah memasuki fase otonom, adaptif, dan interdependen dengan manusia. Hubungan ini menggambarkan bahwa manusia dan teknologi saling bergantung untuk bertahan dan berkembang.
Menariknya, meskipun Origin adalah fiksi, istilah Technium berakar pada pemikiran nyata. Konsep ini dipopulerkan oleh Kevin Kelly, salah satu pendiri majalah Wired, yang mendefinisikan Technium sebagai sistem global teknologi yang saling terhubung dan berperilaku layaknya organisme hidup. Brown mengadaptasi gagasan ini ke dalam narasi populer, menjadikannya lebih mudah diakses melalui media bacaan fiski.
Inti dari penemuan Kirsch adalah prediksi radikal bahwa sekitar tahun 2050 Homo sapiens tidak akan “punah”, melainkan melebur dengan Technium. Batas antara biologi dan teknologi akan mengabur, melahirkan bentuk kehidupan baru yang lebih cerdas dan melampaui keterbatasan fisik manusia. Gagasan ini bersinggungan erat dengan konsep transhumanisme, di mana evolusi tidak lagi murni biologis, tetapi dipercepat oleh inovasi teknologi.
Technium dari Kacamata Geospasial
Relevansi paling kuat dari gagasan Technium terletak pada hubungan simbiosis antara manusia dan data spasial dalam kehidupan modern. Hampir seluruh aktivitas manusia kini terhubung dengan peta digital, GPS, dan berbagai layanan berbasis lokasi. Tanpa disadari, manusia terus-menerus menyumbangkan data posisi setiap detik, sementara sistem teknologi mengolahnya menjadi navigasi yang akurat, rasa aman, serta efisiensi dalam berbagai aspek kehidupan. Pola hubungan ini mencerminkan prediksi Edmond Kirsch tentang masa depan manusia yang tidak lagi terpisah dari teknologi, melainkan menyatu dengannya dalam satu ekosistem yang saling bergantung.
Contoh paling nyata dari gagasan Technium dalam konteks kekinian dapat dilihat pada perkembangan teknologi geospasial berbasis kecerdasan buatan yang dikenal sebagai geospatial intelligence atau GEOINT. Meskipun belum sepenuhnya mencapai tahap “kehidupan mandiri” seperti yang digambarkan dalam novel, GEOINT telah menunjukkan arah evolusi teknologi yang sejalan dengan ide Technium. Sistem ini tidak lagi berfungsi sebagai alat pasif yang menunggu perintah manusia. AI dalam GEOINT mampu bekerja secara otonom, memantau perubahan permukaan bumi, mendeteksi pergerakan objek, hingga memprediksi anomali cuaca secara real time tanpa intervensi langsung, di mana sebuah teknologi mulai memiliki kemampuan persepsi dan respons terhadap lingkungannya sendiri.
Di era modern ini, penggabungan konsep Technium dengan GEOINT melahirkan sistem yang sangat adaptif di berbagai sektor kehidupan. Dalam bidang keamanan dan pertahanan, intelijen prediktif berbasis data geospasial digunakan untuk memetakan potensi konflik sebelum benar-benar terjadi dengan membaca pola pergerakan logistik dan dinamika geopolitik melalui analisis AI. Di ranah manajemen bencana, jaringan sensor mampu mendeteksi tanda-tanda awal, seperti perubahan cuaca atau dampak perubahan lingkungan terhadap potensi bencana, lalu secara otomatis mengirimkan protokol evakuasi ke perangkat masyarakat yang berada di wilayah terdampak. Sementara itu, dalam konsep smart city dan perencanaan wilayah, tata ruang kota mulai bersifat “organik”. Data mobilitas warga diolah secara dinamis untuk menyesuaikan rute transportasi dan distribusi layanan, seperti yang tergambar jelas lewat fenomena Fotoyu dan Strava. Di sektor pertanian presisi, satelit dan drone yang dilengkapi AI dapat mengenali kondisi tanaman secara mandiri, lalu memberikan pupuk atau air hanya pada area yang benar-benar membutuhkan.
Dalam relasi ini, manusia berperan sebagai sumber informasi yang terus mengalirkan data lokasi, sementara Technium, melalui algoritma GEOINT, memberikan imbalan berupa navigasi yang lebih akurat, keamanan yang meningkat, dan efisiensi hidup yang makin tinggi. Pertukaran ini membentuk siklus ketergantungan yang makin erat.
Argumen Technium dalam Origin menunjukkan bahwa teknologi telah berkembang melampaui batas sebagai alat semata dan mulai hidup bersinergi dengan manusia. Hubungan tersebut menggambarkan kondisi di mana manusia dan teknologi saling membutuhkan untuk bertahan dan berkembang, sejalan dengan gagasan Technium sebagai bentuk evolusi baru yang mengaburkan batas antara kehidupan biologis dan sistem teknologis.
Baca juga: Memahami Geospasial Lewat Simbol dan Arsitektur Novel Angels and Demons Karya Dan Brown
Masa Depan Manusia dan Data Spasial
Melalui Origin, Dan Brown tidak hanya menyuguhkan triler intelektual tentang sains dan iman, tetapi juga menawarkan refleksi mendalam mengenai arah evolusi manusia di tengah percepatan teknologi. Gagasan Technium yang diusung Edmond Kirsch menghadirkan pandangan bahwa teknologi telah berkembang melampaui peran sebagai alat, menjadi sistem hidup yang otonom, adaptif, dan saling bergantung dengan manusia. Ketika dibaca melalui kacamata geospasial, Technium menemukan relevansinya dalam pemanfaatan data lokasi, peta digital, dan sistem GEOINT yang kini membentuk cara manusia memahami, navigasi, dan mengelola ruang hidupnya.
Hubungan simbiosis antara manusia dan teknologi geospasial menunjukkan bahwa masa depan tidak lagi ditentukan oleh dominasi salah satu pihak, melainkan oleh kemampuan keduanya untuk beradaptasi bersama. Dengan demikian, Origin mengajak pembacanya untuk melihat teknologi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari evolusi peradaban. Pada akhirnya, Technium menjadi cermin bagi manusia modern untuk memahami posisinya di dunia yang makin dipetakan, dianalisis, dan dihidupkan oleh data dan ruang.
