Pembangunan infrastruktur di wilayah rawan bencana selalu menghadirkan tantangan besar, terutama ketika dilakukan di kawasan yang memiliki aktivitas seismik tinggi. Peristiwa runtuhnya sebagian Jembatan Shuangjiangkou Hongqi di Sichuan, Tiongkok menjadi contoh nyata bagaimana faktor geologi dapat memengaruhi ketahanan konstruksi modern. Insiden ini sekaligus membuka kembali diskusi mengenai pentingnya analisis geospasial dalam perencanaan infrastruktur, terutama untuk negara-negara yang berada di jalur gempa, seperti Indonesia.
Kejadian bermula ketika jembatan yang baru dibangun tersebut tiba-tiba ambruk sebagian, menyebabkan bongkahan beton besar jatuh ke lereng pegunungan berbatu dan memicu semburan debu tebal. Rekaman video yang tersebar luas di media sosial Tiongkok menunjukkan lokasi jembatan berada di kawasan pegunungan dengan tingkat aktivitas tektonik tinggi. Namun, pemerintah menyatakan bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Secara geospasial, jembatan ini berada pada jalur utama menuju Tibet, sebuah rute yang melintasi wilayah yang pernah mengalami gempa dahsyat berkekuatan 7,9 skala Richter pada tahun 2008. Pemerintah Tiongkok menyampaikan bahwa gempa tersebut menewaskan lebih dari 69.000 orang dan menyebabkan ribuan lainnya hilang, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu titik rawan gempa terbesar di negara itu.
Dilansir dari The New York Times, sebelum ambruk, pemerintah lokal di Kota Ma’erkang melaporkan bahwa jembatan telah ditutup sejak Senin setelah muncul retakan pada badan jalan dan lereng yang berada di sekitarnya. Otoritas transportasi kemudian memastikan bahwa longsor yang terjadi pada Selasa menjadi pemicu runtuhnya oprit dan struktur penopang jalan. Pemerintah telah menyiapkan jalur alternatif, tetapi belum dapat memastikan kapan jembatan dapat kembali dibuka mengingat perlunya evaluasi geoteknik secara menyeluruh terhadap stabilitas lereng dan fondasi.
Dalam beberapa dekade terakhir, Tiongkok menggelontorkan dana besar untuk membangun infrastruktur, terutama jalan raya, jembatan, dan jalur kereta di wilayah pegunungan. Upaya ini memang menghasilkan berbagai jembatan tertinggi dan terpanjang di dunia, tetapi juga membuat banyak pemerintah daerah terbebani utang, khususnya untuk proyek yang dibangun di area berisiko tinggi.
Kasus ambruknya jembatan ini memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Memahami jalur gempa, memanfaatkan teknologi geospasial, serta memperkuat perencanaan tata ruang berbasis risiko adalah kunci untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya megah secara visual, tetapi juga aman dalam jangka panjang.
