Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Lingkungan Mitú di Ambang Krisis: Urbanisasi, Ekstraksi Ilega...
Lingkungan

Mitú di Ambang Krisis: Urbanisasi, Ekstraksi Ilegal, dan Tekanan Baru di Amazon

Mitú di Ambang Krisis: Urbanisasi, Ekstraksi Ilegal, dan Tekanan Baru di Amazon

Di tengah perkembangan pesat kawasan Amazon Kolombia, Mitú menjelma menjadi titik pertemuan yang rumit antara tradisi masyarakat adat, ekspansi kota, dan maraknya aktivitas ekonomi yang terus menekan bentang hutan. Kota kecil yang dahulu dihuni sekitar 4.000 jiwa kini berkembang menjadi pusat urban yang menampung hampir 30.000 penduduk, membawa dinamika sosial dan ekologis yang makin sulit dikendalikan.

Setiap pagi, warga dari komunitas adat di sekitar Sungai Vaupés mendayung kano kayu tradisional menuju pasar di Mitú. Mereka membawa hasil kebun dan ikan yang baru ditangkap, menyusuri sungai berair cokelat teh menuju kota yang tumbuh cepat itu. Kano-kano ini melintas di antara pipa beton raksasa dan patung Bunda Maria, simbol bahwa mereka telah meninggalkan wilayah adat Great Vaupés Indigenous Reserve dan memasuki kawasan urban yang berubah drastis di tengah hutan hujan tropis.

Pertumbuhan penduduk Mitú tidak hanya berasal dari masyarakat adat yang bergerak di antara permukiman tradisional dan kota, tetapi juga dari pendatang nonpribumi yang membuka usaha, bekerja di lembaga penelitian, atau bergabung dengan organisasi nirlaba. Namun, sebagian besar lonjakan tersebut dipicu oleh aktivitas ilegal, seperti penambangan emas oleh kelompok kriminal, ekstraksi mineral kritis, seperti coltan yang digunakan dalam perangkat elektronik dan baterai kendaraan listrik, serta ekspansi peternakan, penebangan liar, dan perdagangan satwa.

“Makin banyak pemukim yang merupakan migran dari Caquetá dan wilayah lain, dan Anda bisa lihat bagaimana hal ini memberikan tekanan pada komunitas lokal,” ujar Ana María Zuluaga, koordinator komunikasi di Center for Intercultural Medical Studies (CEMI), dikutip dari Mongabay. “Peternakan sapi, deforestasi untuk kayu, dan aktivitas penambangan merupakan ancaman yang sangat jelas. Saya juga dapat mengatakan bahwa proses kolonisasi di Kolombia sangat dipengaruhi oleh kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok lain di berbagai wilayah.”

Deforestasi Meningkat, Lingkungan Terancam

Hanya sedikit studi yang memetakan dampak pasti aktivitas ini. Namun, data Global Forest Watch mencatat hilangnya 10.000 hektare tutupan pohon di Mitú sejak 2014. Warga menilai perluasan kota turut mempercepat degradasi tanah, pencemaran air, dan deforestasi. Bagi komunitas Macaquiño yang mayoritas beretnis Cubeo, kerusakan ekologis ini diperburuk oleh melemahnya kepercayaan spiritual dan budaya tradisional.

Pada Juni 2025, otoritas Kolombia menindak lokasi penambangan ilegal di San Juan de Cucura, sebuah komunitas adat dalam wilayah Mitú. Mereka menyita satu ekskavator, satu truk, tujuh meter kubik pasir, dan menangkap dua orang atas dugaan penambangan ilegal dan pencemaran lingkungan.

Data Global Forest Watch menunjukkan bahwa pada 2024, Mitú kehilangan 1.100 hektare hutan primer, naik dari 810 hektare per tahun pada 2022 dan 2023. Meski sebagian kawasan dibuka sesuai izin yang diberikan kepada masyarakat adat berdasarkan undang-undang 2006, penebangan tetap menjadi pendorong utama hilangnya hutan di wilayah ini.

Gambar 1

Jalan Mitú–Monfort, Pemicu Gelombang Baru Perambahan

Pembangunan jalan Mitú–Monfort pada 1980 hingga 1990-an membuka akses ke wilayah hutan terpencil dan menarik arus pemukim baru yang kemudian membuka lahan untuk pertanian dan peternakan. Laporan lembaga lingkungan, seperti SINCHI Institute, menunjukkan bahwa akses jalan ini memicu deforestasi besar-besaran.

“Di sepanjang jalan Mitú-Monfort, tempat para pendatang menetap, deforestasi terlihat sangat jelas,” kata Hernández. “Bertahun-tahun lalu, para pendatang mulai mengembangkan peternakan sapi dan hal itu menyebabkan hutan rusak total. Tanah Amazon sebenarnya tidak cocok untuk aktivitas tersebut.”

Sebuah laporan SINCHI Institute pada 2024 mengidentifikasi dampak sosial dan lingkungan akibat jalan tersebut, termasuk konflik lahan dan degradasi tanah. Wilayah itu sebelumnya merupakan kawasan hutan lindung, tetapi statusnya dicabut pada 2013, memungkinkan warga membeli lahan berdasarkan undang-undang tahun 1994. Media Routes of Conflict pada 2023 melaporkan bahwa kebijakan ini memicu ketegangan serius antara pemukim dan masyarakat adat yang menganggap area tersebut sebagai wilayah tradisional mereka.

“Tekanan masuknya pendatang sangat kuat,” ujar Manuel Claudio Fernández, kepala komunitas adat Macaquiño, salah satu dari empat komunitas dalam Association of Traditional Indigenous Authorities Surrounding Mitú (AATIAM). “Di komunitas yang berada di seberang kami, Ceima Cachivera, banyak pendatang membeli tanah secara ilegal dan itu masih terus terjadi. Pergulatan seperti ini masih berlangsung sampai sekarang.”

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!