Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Opini Menilik Space Program 2045 dari BRIN: Membangun Ek...
Opini

Menilik Space Program 2045 dari BRIN: Membangun Ekonomi Antariksa Nasional Lewat Pengindraan Jauh

Menilik Space Program 2045 dari BRIN: Membangun Ekonomi Antariksa Nasional Lewat Pengindraan Jauh

Pada tahun 2024, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai meletakkan fondasi penting bagi ekosistem keantariksaan nasional melalui penyusunan Space Program 2045. Inisiatif ini merupakan langkah strategis yang selaras dengan mandat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, yang menempatkan BRIN sebagai lembaga penanggung jawab dalam merumuskan arah kebijakan ruang angkasa Indonesia menuju 2045. Dalam pembukaan Kick Off Meeting for the Preparation of Indonesia’s Space Roadmap 2045, BRIN menegaskan bahwa penyusunan peta jalan tersebut adalah kebutuhan mendesak untuk menyatukan arah pengembangan teknologi antariksa, termasuk satelit, peluncuran, dan pemanfaatan data spasial.

Dari sisi geospasial, kegiatan keantariksaan selama ini telah terbukti memberi kontribusi besar bagi sektor pertanian, kelautan, perikanan, pengawasan lahan, keamanan maritim, hingga mitigasi bencana. Perubahan iklim, kerusakan ekosistem, dan dinamika pemanfaatan ruang darat-laut menuntut kehadiran sistem observasi bumi yang lebih kuat. Oleh karena itu, BRIN mendorong pembaruan kebijakan yang tidak hanya menempatkan ruang angkasa sebagai sistem pendukung, tetapi juga sebagai sektor strategis yang mampu meningkatkan produktivitas nasional berbasis data.

Indonesia memiliki keunggulan geografis sebagai negara ekuator sekaligus salah satu pengguna terbesar layanan satelit di Asia Tenggara. Keunggulan ini memberi peluang besar dalam pengembangan pengindraan jauh, aeronautika, komersialisasi ruang, dan teknologi peluncuran. Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN menyatakan bahwa pertemuan-pertemuan lintas sektor telah menjadi ruang konsolidasi antara kementerian/lembaga, industri, asosiasi, dan akademisi untuk menyempurnakan kebutuhan tiap bidang. Berbagai masukan mengenai akselerasi target pengindraan jauh, peningkatan akses ruang, peran industri nasional, hingga diplomasi ruang diharapkan menjadi landasan roadmap 2045 yang implementatif dan kompetitif secara global.

Pertanyaan besar kemudian muncul, apa saja yang ingin dicapai oleh Space Program 2045?

Kolaborasi Internasional dan Rencana Pembangunan Bandar Antariksa

Salah satu langkah strategis dalam program ini adalah menjalin kemitraan internasional. BRIN telah menjalankan program co-development dengan sejumlah negara, termasuk kolaborasi dengan Türk Havacılık ve Uzay Sanayi A.Ş. (TUSAŞ) dari Turki. Melalui mobilitas periset dan program internship, BRIN mendorong terbentuknya ekosistem riset teknologi antariksa yang menghasilkan inovasi konkret. Dalam waktu dekat, BRIN menargetkan pemanfaatan teknologi pengindraan jauh sebagai fondasi awal penguatan industri kedirgantaraan nasional dengan mengembangkan unmanned aerial vehicles (UAV) untuk pemetaan dan mitigasi bencana. Teknologi UAV berbasis sensor resolusi tinggi sangat relevan mengingat kompleksitas geografis Indonesia, dari kawasan rawan gempa hingga wilayah pesisir yang terus berubah.

Salah satu ambisi terbesar dalam roadmap 2045 adalah pembangunan bandar antariksa nasional. Pulau Morotai dan Biak muncul sebagai kandidat utama karena berada tepat di garis khatulistiwa. Posisi ini memberikan keuntungan fisik berupa efisiensi bahan bakar dan peningkatan kecepatan rotasional bumi saat peluncuran roket. Dari perspektif geospasial, lokasi-lokasi ini juga memiliki ruang udara dan laut yang relatif aman serta minim konflik kepadatan penerbangan.

Pemerintah memproyeksikan bahwa fasilitas ini tidak hanya digunakan untuk misi negara, tetapi juga dapat menjadi pusat layanan peluncuran roket komersial internasional. Dengan pasar global peluncuran satelit yang terus berkembang, spaceport di Indonesia berpotensi menjadi sumber devisa baru dan membuka peluang investasi bagi perusahaan teknologi global. Jika terealisasi, Indonesia akan menjadi salah satu negara ekuator yang mengoperasikan layanan peluncuran, sejajar dengan negara, seperti Kourou di Guyana Prancis.

Gambar 1

Pengindraan Jauh sebagai Pilar Utama Space Economy 2045

Fokus terbesar dalam Space Program 2045 adalah penguatan pengindraan jauh (remote sensing) sebagai penyangga utama ekonomi antariksa nasional. BRIN menyatakan bahwa pengindraan jauh menjadi fondasi yang paling realistis dan strategis untuk membangun space economy karena manfaatnya langsung dirasakan oleh berbagai sektor produktif. Pandangan ini sejalan dengan analisis pakar aerodinamika dari FTMD ITB yang menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam industri dirgantara, terlebih dengan proyeksi pasar global sektor antariksa yang diperkirakan akan meningkat dari 350 miliar dolar AS menjadi 790 miliar dolar AS dalam satu dekade.

Pengindraan jauh memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena menghasilkan data spasial yang menjadi dasar perencanaan ruang, pengelolaan sumber daya alam, pemantauan energi, keamanan maritim, hingga pemodelan perubahan iklim. Dalam konteks Indonesia, kebutuhan data resolusi tinggi sangat krusial untuk pengawasan hutan, deteksi illegal fishing, pemetaan kerentanan bencana, hingga perencanaan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang bertumpu pada sistem geospasial terpadu.

Selain itu, BRIN memperkuat koordinasi dengan industri pertahanan dalam negeri, termasuk BUMN strategis, seperti DEFEND ID dan PT Pindad, yang berperan sebagai offtaker utama teknologi kedirgantaraan. Pemerintah menerapkan kebijakan spend to invest untuk mendorong perusahaan asing berinvestasi di Indonesia, sekaligus memacu transfer teknologi dalam produksi satelit, sensor optik, radar aperture sintetis (SAR), serta sistem propulsi.

Kemajuan industri pertahanan menunjukkan bahwa kemandirian teknologi memberi dampak signifikan terhadap ekonomi nasional, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan kemampuan produksi dalam negeri. Dengan dukungan inovasi dan kebijakan strategis lintas sektor, Indonesia menargetkan ekosistem keantariksaan yang kuat, mandiri, dan mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Meneguhkan Lompatan Indonesia Menuju Ekonomi Antariksa

Space Program 2045 merupakan langkah strategis BRIN untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi antariksa global. Melalui penguatan kebijakan, kolaborasi internasional, dan pemanfaatan posisi geografis di garis khatulistiwa, Indonesia menargetkan terbentuknya ekosistem antariksa yang mandiri dan kompetitif. Pengindraan jauh menjadi fokus utama karena kontribusinya terhadap pertanian, kelautan, mitigasi bencana, pemetaan ruang, serta keamanan maritim. Rencana pembangunan bandar antariksa di Biak dan Morotai makin mempertegas ambisi Indonesia menjadi pusat peluncuran roket komersial. Dukungan industri pertahanan dan inovasi teknologi mempercepat kemandirian satelit, sensor, dan sistem penerbangan antariksa.

Dengan visi jangka panjang dan kerja sama lintas sektor, Space Program 2045 membuka jalan bagi Indonesia memasuki era baru pembangunan berbasis data spasial. Program ini tidak hanya membangun kemampuan teknologi, tetapi juga memperkuat fondasi kedaulatan antariksa dan ekonomi masa depan yang berdaya saing global.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!