Selama ribuan tahun peradaban manusia, agama kerap diposisikan berseberangan dengan sains. Narasi yang sering muncul adalah adanya konflik antara iman yang bersifat dogmatis dan ilmu pengetahuan yang bersifat empiris, seolah keduanya berjalan di rel yang berbeda dan tak mungkin bertemu. Dalam sejarah Barat misalnya, kisah pertentangan gereja dengan ilmuwan kerap dijadikan contoh klasik dikotomi tersebut. Namun, jika kita menengok praktik keagamaan di Indonesia dan dunia muslim, terdapat satu fenomena tahunan yang justru menunjukkan harmoni keduanya, yakni penentuan awal puasa Ramadan atau awal bulan Hijriah.
Setiap menjelang Ramadan, para ulama, astronom, hingga pakar teknologi geospasial bekerja dalam kerangka yang sama: menghitung posisi hilal dengan metode hisab, memverifikasinya melalui rukyat, serta memanfaatkan data satelit, perangkat optik, dan pemodelan atmosfer untuk meningkatkan akurasi. Di titik inilah teologi bertemu astronomi, dan keyakinan berjalan berdampingan dengan kalkulasi matematis.
Lalu, bagaimana dua pemahaman yang selama ini dianggap berseberangan tersebut saling melengkapi hingga menghadirkan sebuah informasi berbasis data, fakta, dan bukti bagi umat beragama dalam menjalankan salah satu rukun Islam tersebut?
Harmoni Teologi dan Astronomi
Penentuan awal bulan dalam Islam sejatinya bertumpu pada dua pendekatan yang sejak lama berjalan berdampingan, yakni rukyatulhilal dan hisab. Rukyatulhilal merujuk pada pengamatan langsung terhadap bulan sabit muda di ufuk barat, sedangkan hisab adalah perhitungan matematis yang memanfaatkan ilmu astronomi untuk mengetahui posisi bulan secara akurat. Keduanya bukan metode yang saling menyangkal satu sama lain, melainkan saling melengkapi. Profesor Riset Astronomi-Astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyebut bahwa penentuan awal bulan Hijriah merupakan perpaduan presisi antara sains dan implementasi ibadah, sebuah bentuk kolaborasi yang telah teruji waktu.
Secara astronomis, momen konjungsi atau bulan baru dapat dihitung hingga tingkat ketelitian detik. Namun dalam praktik keagamaan, angka-angka tersebut belumlah cukup tanpa konfirmasi keberadaan fisik hilal. Di sinilah sains memainkan perannya sebagai pemandu, bukan pengganti keyakinan. Astronomi menyediakan data mengenai posisi bulan, tinggi hilal, hingga elongasi atau jarak sudut bulan terhadap matahari. Informasi ini menjadi kompas bagi para perukyat (individu yang melakukan pemantauan hilal) untuk menentukan arah pengamatan di bentang ufuk barat yang luas sehingga proses rukyat tidak dilakukan secara spekulatif.
Lebih jauh lagi, sains menghadirkan kerangka objektif melalui kriteria yang disepakati bersama. Standar MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), misalnya, menetapkan bahwa hilal dinilai berpotensi terlihat apabila memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat, sebagaimana dilansir dari KOMPAS.com. Parameter tersebut lahir dari penelitian empiris jangka panjang tentang visibilitas bulan, menegaskan bahwa keputusan keagamaan pun dapat berdiri di atas fondasi ilmiah yang kokoh.
Peran Teknologi Geospasial dalam Pemetaan Langit
Bagaimana teknologi geospasial menjembatani hal ini? Geospasial bukan hanya tentang peta bumi, tetapi juga tentang referensi koordinat ruang dan waktu yang sangat akurat. Dalam menentukan hilal, teknologi geospasial berperan dalam beberapa aspek krusial:
- Pemetaan Lokasi Pengamatan (Titik Rukyat): Di Indonesia, Kementerian Agama dan berbagai organisasi kemasyarakatan menentukan titik-titik pengamatan strategis dari Aceh hingga Papua. Penentuan lokasi ini melibatkan analisis geospasial untuk memastikan tempat tersebut memiliki pandangan ufuk barat yang bebas hambatan (tidak terhalang gunung atau bangunan) dan memiliki gangguan cahaya (polusi cahaya) yang minimal.
- Pemodelan Atmosfer dan Cuaca: Teknologi satelit geospasial membantu para perukyat memprediksi kondisi awan di lokasi pengamatan. Jika citra satelit menunjukkan tutupan awan tebal di satu titik, data tersebut menjadi catatan penting bagi sidang isbat (penentuan) dalam menilai mengapa hilal tidak terlihat, meskipun secara hitungan astronomis hilal sudah berada di atas ufuk.
- Visualisasi Data Astronomis: Perangkat lunak berbasis sistem informasi geografis (SIG) memungkinkan para ahli untuk memvisualisasikan "sabuk hilal" atau wilayah di mana bulan mungkin terlihat pertama kali di permukaan bumi. Ini adalah bentuk nyata bagaimana data spasial digunakan untuk memverifikasi peristiwa langit.
