Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Keamanan HMAS Leeuwin dan TNI AL Perkuat Pemetaan Laut di P...
Keamanan

HMAS Leeuwin dan TNI AL Perkuat Pemetaan Laut di Perairan Nusa Tenggara Timur

HMAS Leeuwin dan TNI AL Perkuat Pemetaan Laut di Perairan Nusa Tenggara Timur

Perairan biru Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menjadi pusat perhatian, kali ini karena kedatangan kapal survei hidrografi HMAS Leeuwin (A245) milik Angkatan Laut Australia. Kapal tersebut hadir untuk melaksanakan kerja sama hidro-oseanografi dengan TNI Angkatan Laut (TNI AL) dalam kegiatan pemetaan laut dan peningkatan keselamatan navigasi di kawasan perbatasan Indonesia–Australia.

Misi ini menjadi bagian dari upaya kedua negara memperkuat kolaborasi di bidang maritim, khususnya dalam pemetaan dasar laut dan keselamatan pelayaran. HMAS Leeuwin bukan kapal baru di perairan Indonesia. Dilansir dari Indonesia Defense Magazine, kapal ini pernah berkunjung pada tahun 2018 di Tanjung Priok untuk misi serupa. Kunjungan tahun ini makin menegaskan komitmen Australia untuk berperan aktif menjaga keamanan dan keselamatan maritim di kawasan perbatasan selatan Indonesia.

Kapal Survei Canggih

HMAS Leeuwin merupakan kapal survei kelas Leeuwin yang resmi bertugas di Angkatan Laut Australia sejak 27 Mei 2000. Kapal dengan 46 personel awak ini dipimpin oleh Komandan Shawn Poing-Destre, yang juga memimpin misi bersama TNI AL di wilayah perbatasan.

Dengan panjang 71,2 meter, lebar 15,2 meter, dan draft 4,3 meter, kapal ini memiliki bobot displacement antara 2.170 hingga 2.205 ton. Kapal tersebut menggunakan sistem penggerak diesel-elektrik yang terdiri atas empat generator dan dua motor listrik. Kecepatan maksimalnya mencapai 13 knot, dengan jarak jelajah hingga 18.000 mil laut pada kecepatan 9 knot. Untuk mempermudah manuver di perairan dangkal, HMAS Leeuwin dilengkapi bow-thruster, sistem pendorong tambahan di haluan kapal.

Sebagai kapal survei, HMAS Leeuwin membawa peralatan canggih, seperti alat pemindai kedalaman laut (echo sounder multibeam dan single beam), sonar yang terpasang di lambung kapal (hull-mounted sonar), serta kapal kecil (survey launch) untuk survei di area dangkal. Perangkat ini digunakan dalam berbagai kegiatan, mulai dari pemetaan dasar laut, survei navigasi, hingga dukungan latihan interoperabilitas dan kerja sama internasional di bidang hidro-oseanografi.

Latihan Bersama di Perairan Perbatasan

Kunjungan HMAS Leeuwin bertepatan dengan pelaksanaan latihan gabungan Cassowary Exercise (Cassoex) dan Coordinated Hydrographic Survey Exercise (CHSE) yang berlangsung pada 10–16 November 2025 di perairan NTT. “Latihan ini fokus meningkatkan interoperabilitas, memperkuat profesionalisme, serta memperdalam kerja sama di bidang survei hidrografi dan keselamatan navigasi maritim antara kedua negara,” ujar Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul di Jakarta, Rabu, 12 November 2025.

Gambar 1

Baca juga: Indonesia dan Australia Perkuat Kolaborasi Survei Laut melalui Latihan CHSE 2025

Selain HMAS Leeuwin, TNI AL juga mengerahkan dua kapal perang, yaitu KRI Spica-934 dan KRI Bawal-875, untuk mendukung kegiatan tersebut. Latihan dilakukan di perairan perbatasan Indonesia–Australia sekitar Pulau Rote, kawasan yang memiliki nilai strategis bagi jalur pelayaran regional dan pengawasan keamanan laut.

Dalam latihan ini, kedua negara juga menyepakati pembagian sektor wilayah kerja untuk memastikan pemetaan dilakukan sesuai tanggung jawab masing-masing tanpa tumpang tindih. “Melalui Cassowary Exercise dan CHSE, kedua angkatan laut memperkuat interoperabilitas dan profesionalisme di bidang survei hidrografi, sekaligus mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Australia dalam menjaga keamanan serta keselamatan maritim di kawasan,” kata Joni, dikutip dari keterangan Dispen Koarmada VII.

Menurut laporan Indonesia Defense Magazine, Cassowary Exercise merupakan latihan rutin dua tahunan antara TNI AL dan Angkatan Laut Australia, sementara CHSE adalah latihan survei hidrografi terkoordinasi yang dimulai sejak tahun 2023. Tahun ini, kedua latihan tersebut dilaksanakan bersamaan di wilayah perbatasan NTT, termasuk jalur strategis sekitar Pulau Rote.

Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan pembaruan data dasar laut, tetapi juga memperkuat sinergi diplomasi dan profesionalisme kedua angkatan laut. Melalui pemetaan yang akurat, kedua negara dapat meningkatkan keselamatan navigasi dan efektivitas operasi maritim di kawasan Indo-Pasifik.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!