Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, cara anak-anak belajar tentang dunia kini mengalami perubahan besar. Peta tidak lagi sekadar gambar dua dimensi di dinding kelas, melainkan jendela interaktif untuk memahami bagaimana bumi bekerja. Melalui teknologi geospasial, siswa dapat melihat hubungan antara ruang, waktu, dan fenomena di sekitarnya.
Perusahaan teknologi pemetaan global Esri menjadi salah satu pionir dalam membawa pengalaman ini ke dunia pendidikan. Melalui program K–12 Education, Esri berupaya membantu guru memperkenalkan konsep geospasial kepada anak usia sekolah dengan cara yang menarik dan mudah diakses. Tujuannya untuk membangun generasi muda yang mampu memahami dunia melalui data dan peta.
Membuka Dunia Melalui Peta
Esri meyakini bahwa peta adalah alat pembelajaran yang sangat kuat. Dengan peta, siswa tidak hanya belajar tentang lokasi negara, sungai, atau gunung, tetapi juga memahami bagaimana lingkungan berubah dari waktu ke waktu. Misalnya, mereka bisa mempelajari sebaran polusi udara, perubahan tutupan hutan, atau dampak urbanisasi terhadap sungai.
Teknologi geospasial membantu anak-anak berpikir kritis. Mereka dapat bertanya, “Mengapa wilayah tertentu rawan banjir?” atau, “Bagaimana suhu di kota besar berbeda dengan daerah pedesaan?” Melalui eksplorasi semacam ini, siswa belajar melihat keterkaitan antara fenomena alam dan aktivitas manusia.
Esri juga menekankan pentingnya menggabungkan peta ke dalam pembelajaran lintas bidang, seperti studi sosial, sains, hingga teknologi. Dengan demikian, peta bukan alat bantu visual semata, melainkan sarana berpikir spasial yang menumbuhkan logika, analisis data, dan empati terhadap lingkungan.
Untuk mempermudah penerapan di sekolah, Esri menyediakan tiga langkah utama yang dapat dilakukan guru. Pertama, menemukan bahan ajar berbasis peta. Melalui portal pembelajaran Esri, guru dapat mengakses aktivitas siap pakai, seperti memetakan gempa bumi dunia, menelusuri pola migrasi, atau menganalisis wilayah terdampak perubahan iklim.
Kedua, menjelajahi dunia dengan peta interaktif. Siswa dapat menggunakan platform, seperti National Geographic MapMaker, untuk meneliti berbagai topik geografis secara langsung. Mereka bisa memperbesar wilayah tertentu, membandingkan data, dan melihat dunia dalam tampilan dua atau tiga dimensi. Ketiga, mengembangkan keterampilan sistem informasi geografis (SIG). Esri mendorong siswa untuk tidak hanya menggunakan peta, tetapi juga membuatnya. Dengan ArcGIS Online misalnya, siswa dapat mengumpulkan data di lapangan, memetakan hasil pengamatan, dan melakukan analisis spasial sederhana. Aktivitas ini menumbuhkan keterampilan abad ke-21, yaitu berpikir kritis, kolaboratif, dan berbasis data.
