Perubahan pembangunan di Indonesia dalam dua puluh tahun terakhir berjalan seiring dengan meningkatnya perpindahan penduduk, terutama generasi muda. Pindah dari satu daerah ke daerah lain kini bukan lagi hal yang jarang terjadi atau kebetulan semata. Bagi banyak anak muda, pindah kota atau kabupaten adalah cara untuk mencari pendidikan yang lebih baik dan pekerjaan yang lebih menjanjikan, karena peluang tersebut tidak tersebar merata di semua wilayah.
Temuan ini disampaikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kependudukan. Penelitian yang dilakukan Meirina Ayumi Malamassam pada tahun 2025 menggunakan data Indonesian Family Life Survey (IFLS) gelombang 1 sampai 5. Oleh karena datanya mengikuti responden dalam jangka waktu panjang, peneliti bisa melihat urutan perpindahan seseorang sejak masa sekolah, mulai bekerja, hingga membentuk keluarga. Dengan cara ini, pola perpindahan bisa dipahami sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan sekadar peristiwa sekali waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pemuda Indonesia usia 15–34 tahun mengalami perpindahan antarkabupaten/kota sebanyak 0,86 kali. Sekitar 40 persen di antaranya pernah pindah setidaknya satu kali. Dari kelompok yang pernah pindah, rata-rata mereka berpindah lagi hingga 2,14 kali. Artinya, banyak anak muda tidak hanya pindah sekali, tetapi beberapa kali dalam hidupnya. Jarak waktu antarperpindahan umumnya sekitar tiga tahun atau kurang. Hal ini menunjukkan bahwa anak muda cepat merespons perubahan peluang pendidikan dan pekerjaan, terutama ke daerah yang memiliki pusat ekonomi, kawasan industri, atau banyak perguruan tinggi.
Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan sangat memengaruhi pola perpindahan. Mereka yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih sering pindah dan melakukan perpindahan berulang dibandingkan mereka yang berpendidikan rendah. Kelompok berpendidikan rendah lebih banyak menetap di daerah asal, meskipun ada yang memulai perpindahan pertama pada usia lebih muda.
Sementara itu, kelompok berpendidikan tinggi lebih aktif berpindah pada tahap-tahap berikutnya, misalnya setelah lulus kuliah atau saat mengembangkan karier. Dengan kata lain, pendidikan berperan penting dalam menentukan seberapa jauh dan seberapa sering seseorang berpindah karena pendidikan berkaitan langsung dengan peluang kerja dan pilihan tempat tinggal.
Menariknya, mereka yang berpendidikan tinggi juga lebih cenderung bertahan di daerah tujuan hingga usia 34 tahun. Fenomena ini menunjukkan bahwa wilayah-wilayah maju makin dipenuhi oleh tenaga kerja terdidik. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memperlebar kesenjangan pembangunan antarwilayah karena daerah yang kurang berkembang kehilangan sumber daya manusia berkualitas. Melalui penelitian jangka panjang ini, terlihat jelas bahwa pendidikan dan mobilitas penduduk saling berkaitan erat, dan temuan ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan pembangunan yang lebih merata di seluruh Indonesia.
