Pada era peperangan modern, geospatial intelligence (GEOINT) menjadi salah satu elemen paling menentukan dalam kemenangan strategi militer. Dari citra satelit beresolusi tinggi, pemetaan digital, hingga analisis pergerakan pasukan secara real-time, GEOINT memungkinkan komandan memahami lanskap pertempuran dengan presisi tinggi.
Pemanfaatannya terlihat jelas dalam konflik Ukraina–Rusia, di mana satelit komersial, drone, dan data koordinat dari sumber terbuka membantu mengidentifikasi garis logistik, memantau pergerakan kendaraan lapis baja, hingga mendeteksi konsentrasi pasukan lawan. Informasi berbasis lokasi tersebut terbukti lebih tajam daripada sekadar jumlah personel atau persenjataan.
Namun menariknya, konsep-konsep yang sangat canggih ini ternyata memiliki akar yang jauh lebih tua. Berabad-abad sebelum satelit mengitari orbit Bumi, seorang daimyo Jepang dari abad ke-16 yang dijuluki “Si Bodoh dari Owari”, Oda Nobunaga, telah memperlihatkan bagaimana pemahaman ruang, medan, dan posisi dapat mengubah jalannya sejarah. Pada Pertempuran Okehazama, ia menggunakan prinsip-prinsip yang kini kita sebut GEOINT untuk mengalahkan musuh yang jumlahnya nyaris sepuluh kali lipat lebih besar. Strategi Nobunaga berhasil menumbangkan Imagawa Yoshimoto yang memimpin sekitar 25.000 pasukan, padahal ia hanya memiliki 2.000 hingga 3.000 prajurit saja.
Jika satelit belum ditemukan dan drone belum ada, bagaimana Oda Nobunaga mampu menerapkan prinsip-prinsip GEOINT secara intuitif untuk memenangkan pertempuran tersebut?
Apa Itu GEOINT?
Sebelum menelaah strategi Nobunaga, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan GEOINT dalam konteks modern. GEOINT merupakan bentuk informasi tentang aktivitas manusia di permukaan Bumi yang diperoleh melalui pemanfaatan dan analisis citra, sinyal, atau tanda tertentu yang dikombinasikan dengan data geospasial. Dengan kata lain, GEOINT mencakup berbagai sumber informasi berbasis lokasi, mulai dari citra satelit, imaginary intelligence (IMINT), hingga peta digital yang memberikan gambaran akurat tentang dinamika medan dan pergerakan aktor di dalamnya.
Saat ini, penggunaan GEOINT tidak hanya terbatas pada militer Amerika Serikat atau kekuatan besar dunia. Banyak negara, lembaga internasional, hingga sektor komersial telah mengadopsi konsep location intelligence untuk mendukung perencanaan, keamanan, hingga pengambilan keputusan strategis.
Melihat kerangka tersebut, menarik bahwa Nobunaga, tanpa teknologi modern, secara intuitif menerapkan prinsip serupa melalui pengamatan medan, analisis posisi musuh, dan pemanfaatan lingkungan untuk menentukan momentum serangan yang tepat.
Taktik Spasial Si Bodoh dari Owari
Lokasi pertempuran di Dengaku-hazama, yang juga dikenal sebagai Okehazama di Provinsi Owari (kini Prefektur Aichi), merupakan sebuah cekungan sempit dengan kontur seperti jurang kecil. Medan inilah yang menjadi kunci kemenangan Nobunaga. Di wilayah yang terbatas dan tidak luas tersebut, pasukan besar Yoshimoto mendirikan kemah tanpa menyadari bahwa kondisi geografis justru dapat menjadi kelemahan fatal yang menyebabkan pasukan berjumlah puluhan ribu terpaksa memanjang dan menyebar seperti ular sehingga sulit mempertahankan koordinasi dan kecepatan respons. Nobunaga memahami hal ini secara intuitif, sebuah bentuk kesadaran spasial tingkat tinggi yang memungkinkan dirinya memprediksi bagaimana pasukan besar akan terhambat oleh ruang.
Pengetahuan Nobunaga tidak hanya datang dari pengamatan pribadi, tetapi juga dari jaringan mata-mata dan para warga lokal yang mengumpulkan informasi mengenai kondisi musuh. Dari mereka, ia mengetahui bahwa pasukan Yoshimoto sedang beristirahat, bahkan merayakan kemenangan sebelum waktunya, dalam posisi yang sangat rentan. Informasi ini memperkuat mental map Nobunaga tentang posisi musuh, kondisi moral mereka, dan bentuk medan yang mengurung mereka.
