Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Kampus Teknik Geodesi UGM Godok Revisi Kurikulum Baru unt...
Kampus

Teknik Geodesi UGM Godok Revisi Kurikulum Baru untuk Optimalisasi Geospasial dari Hulu ke Hilir

Teknik Geodesi UGM Godok Revisi Kurikulum Baru untuk Optimalisasi Geospasial dari Hulu ke Hilir

Transformasi digital yang berlangsung cepat mendorong berbagai sektor untuk makin bergantung pada informasi berbasis lokasi. Situasi ini menjadikan ilmu geospasial berada pada posisi strategis, terutama ketika teknologi seperti pencitraan resolusi tinggi, pemetaan presisi, dan kecerdasan buatan mulai diintegrasikan dalam proses analisis spasial.

Dalam menghadapi perubahan tersebut, Departemen Teknik Geodesi UGM menilai perlunya pembaruan kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan industri dan tantangan global. Pada gelaran talk show “Meramu Keberlanjutan Teknik Geodesi: Hilirisasi dan Inovasi Informasi Lokasi dengan Keteknikan Geospasial”, 28 November 2025, Prof. Trias Aditya menegaskan bahwa keberlanjutan program studi sangat ditentukan oleh kemampuan menyesuaikan kompetensi akademik dengan perkembangan zaman. Fenomena penutupan program sarjana geodesi di beberapa negara, termasuk Belanda, menunjukkan bahwa disiplin ini harus terus bertransformasi bila ingin menjaga relevansi dan keberlanjutannya.

Pembaruan kurikulum yang tengah dirancang UGM berfokus pada pembentukan alur pembelajaran yang terintegrasi dari hulu ke hilir, dengan menggabungkan geodesi dan geoinformatika sebagai dua peminatan utama. Pendekatan ini menempatkan proses akuisisi data sebagai fondasi awal, yang mencakup survei terestris, penggunaan GNSS, pemanfaatan pengindraan jauh, hingga pengoperasian sensor modern. Setelah memahami cara menghasilkan data yang andal, mahasiswa diajak menjelajahi tahapan hilir berupa pengolahan, analisis, dan pemodelan spasial.

Proses ini melibatkan integrasi berbagai sumber data, penerapan automasi, serta pemanfaatan machine learning dalam menghasilkan insight yang mendukung pengambilan keputusan. Keterhubungan antara hulu dan hilir tersebut membentuk pemahaman menyeluruh bahwa data tidak berhenti pada pengumpulan, tetapi memiliki perjalanan panjang menuju informasi strategis yang berguna bagi pembangunan, mitigasi bencana, dan pengelolaan wilayah.

Konteks perubahan kompetensi ini turut diperkuat oleh pandangan Nikma Fista, alumni Teknik Geodesi UGM, yang menekankan perlunya sosok Alpha Geodet sebagai generasi geospasial masa depan. Konsep tersebut menggambarkan lulusan yang kuat secara teknis namun juga mampu beradaptasi cepat, memahami kebutuhan pasar, serta berkomunikasi efektif lintas bidang. Ekosistem geospasial masa kini menuntut ketepatan analisis sekaligus kecepatan inovasi sehingga mahasiswa perlu bergerak melampaui peran sebagai pengguna perangkat menuju pencipta teknologi dan solusi. Perubahan paradigma ini membuka peluang bagi lulusan untuk berkontribusi lebih luas dalam pengembangan sistem informasi geospasial, perencanaan strategis, dan penyelesaian persoalan kompleks melalui pendekatan berbasis data.

Keseluruhan langkah ini menggambarkan arah transformasi pendidikan geospasial yang tengah diupayakan UGM. Penyusunan kurikulum baru tidak hanya berfungsi memperbarui kurikulum di bangku perkulihan, tetapi juga membangun struktur pembelajaran yang mendorong kolaborasi, kreativitas, dan inovasi. Integrasi pemahaman teknis dari hulu ke hilir serta pembentukan profil Alpha Geodet diharapkan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan berperan aktif dalam ekosistem geospasial global. Transformasi ini sekaligus menegaskan komitmen UGM untuk menjaga keberlanjutan ilmu geodesi dan memperkuat kontribusi Indonesia dalam perkembangan teknologi informasi lokasi yang makin krusial bagi masa depan.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!