Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Korea Selatan Seoul Gunakan AI dan Peta 3D Geospasial untuk Dete...
Korea Selatan

Seoul Gunakan AI dan Peta 3D Geospasial untuk Deteksi Titik Rawan Kejahatan

Seoul Gunakan AI dan Peta 3D Geospasial untuk Deteksi Titik Rawan Kejahatan

Pemerintah Kota Seoul terus memantapkan langkahnya menuju kota yang lebih aman dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan data spasial canggih. Melalui platform pemetaan tiga dimensi (3D) yang dikembangkan sendiri, pemerintah kota berupaya mengenali sekaligus menghapus area-area rawan kejahatan yang selama ini sulit terpantau secara manual.

Sistem baru yang bernama S-Map Crime Vulnerability Prediction Model ini, menurut laporan The Korea Bizwire, diterapkan secara penuh pada bulan Oktober. Model tersebut mengintegrasikan beragam data spasial mulai dari perumahan, transportasi, hingga lingkungan ke dalam satu peta digital terpadu. Dengan pendekatan berbasis data ini, pihak berwenang dapat menelusuri setiap sudut kota dan mengidentifikasi lokasi berisiko tinggi dengan presisi tinggi.

Seoul Gunakan AI dan Peta 3D Geospasial untuk Deteksi Titik Rawan Kejahatan - Gambar 1

Cara kerja sistem ini berawal dari pembagian wilayah Seoul ke dalam unit grid berukuran 100 meter. Setiap grid dianalisis oleh AI menggunakan machine learning dan big data analytics untuk menilai berbagai faktor risiko, seperti kepadatan pejalan kaki, tingkat kecerahan lampu jalan, fungsi bangunan, serta jumlah dan posisi kamera CCTV. Dari kombinasi variabel tersebut, algoritma menghitung skor kerentanan dan memprediksi potensi tindak kejahatan di masa depan.

Hasil analisis divisualisasikan secara real-time dalam S-Map, platform geospasial 3D milik kota Seoul. Tampilan ini memperlihatkan area berisiko tinggi melalui penanda warna dan elevasi tertentu sehingga memudahkan aparat keamanan mengenali pola kerawanan dan konsentrasi kejadian. Misalnya, kawasan dengan pencahayaan minim atau kurang kamera pengawas akan muncul lebih menonjol di peta.

Selain memetakan risiko, AI dalam sistem ini juga bersifat adaptif. Setiap kali data baru masuk, model prediksi akan diperbarui sehingga deteksi titik rawan selalu mengikuti dinamika kota. Teknologi ini juga membantu merencanakan jalur patroli, menentukan lokasi optimal untuk lampu dan alarm darurat, serta memperbarui sistem keamanan yang sudah usang.

Sebagai bagian dari strategi komprehensif tersebut, Pemerintah Kota Seoul juga berencana memasang 10.657 kamera baru yang dilengkapi teknologi AI di taman-taman dan jalur pendakian yang selama ini memiliki tingkat kejahatan lebih tinggi dibanding area lain, tetapi belum terpasang kamera pengawas. Dari jumlah itu, sebanyak 4.748 kamera terpasang hingga akhir 2024, sementara sisanya akan diselesaikan hingga 2026.

Seoul Gunakan AI dan Peta 3D Geospasial untuk Deteksi Titik Rawan Kejahatan - Gambar 2

Langkah ini juga disertai dengan penggantian kamera pengawas lama yang resolusinya di bawah 1,3 juta piksel dengan model baru berbasis AI. Hingga akhir 2024, lebih dari 160.000 kamera keamanan beroperasi di seluruh penjuru Seoul, dan sekitar 15.000 di antaranya akan diganti tahun ini. Dalam dua tahun ke depan, pemerintah berencana mengganti total 85.000 kamera non-AI dengan perangkat baru tersebut. Proyek besar ini memiliki anggaran sekitar 126,5 miliar won, atau setara dengan 98,1 juta dolar AS.

Pejabat kota yakin, langkah modernisasi sistem keamanan ini tidak hanya akan memperkuat efektivitas patroli, tetapi juga meningkatkan rasa aman warga karena kebijakan keamanan bisa disesuaikan dengan karakteristik tiap lingkungan. “Tujuan kami adalah menghubungkan data kota dan teknologi mutakhir untuk bidang keselamatan publik, transportasi, dan kesejahteraan,” ujar Kang Ok-hyun, Kepala Biro Kota Digital Seoul. “Kami ingin membangun kota digital yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.”

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!