Pembangunan infrastruktur pesisir berskala raksasa sering kali dipromosikan sebagai jawaban atas kebutuhan ruang, pangan, dan pertumbuhan ekonomi. Namun, di balik narasi kemajuan tersebut, terdapat konsekuensi lingkungan yang tidak selalu dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Kondisi inilah yang menjadikan proyek Saemangeum Seawall di Korea Selatan sebagai sorotan internasional. Pasalnya tanggul laut yang akan berfungsi sebagai pulau reklamasi ini tidak hanya mengubah garis pantai, tetapi juga membentuk ulang sistem ekologis pesisir secara mendalam dan permanen.
Dilansir dari Click Petrol e Gas, lokasi tanggul berada di Provinsi Jeollabuk-do, menghubungkan wilayah Gunsan, Gimje, dan Buan. Sebelum pembangunan dimulai pada awal 1990-an, kawasan ini merupakan salah satu lahan basah pesisir terluas di Korea Selatan. Lingkungan tersebut berfungsi sebagai zona transisi antara air tawar dan air asin dengan produktivitas ekologi tinggi, sekaligus menjadi habitat penting bagi berbagai spesies laut dan burung migran.
Saemangeum Seawall memiliki panjang sekitar 33,9 kilometer dan dibangun di pesisir barat daya Semenanjung Korea. Struktur ini memisahkan Laut Kuning dari kawasan yang sebelumnya didominasi oleh pasang surut, muara sungai, dan hamparan lumpur pantai alami. Perubahan bentang alam tersebut memungkinkan pengendalian air secara penuh serta membuka jalan bagi penciptaan daratan baru dalam skala sangat besar. Proyek ini menggeser batas antara laut dan darat, menciptakan konfigurasi wilayah baru yang sepenuhnya bergantung pada rekayasa manusia.
