Implementasi building information modeling (BIM) kini menjadi solusi krusial untuk mengatasi inefisiensi pemeliharaan infrastruktur di Indonesia. Lebih dari sekadar alat desain, BIM telah bertransformasi menjadi fondasi utama dalam seluruh siklus hidup bangunan yang terintegrasi, mulai dari tahap perencanaan hingga operasional aset secara cerdas.
Dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Academy of Spatial and BIM (ASBIM) mengenai fungsi BIM untuk masa depan infrastruktur, Muhammad Ibnu Syamsi, Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), memaparkan bahwa adopsi teknologi ini telah diperkuat oleh regulasi resmi dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Baca juga: Bagaimana Scan to BIM Meningkatkan Manajemen dan Pemeliharaan Fasilitas dan Bangunan?
Salah satu tantangan terbesar dalam pemeliharaan bangunan di Indonesia adalah data yang tidak terperbarui. Sering kali, perubahan fisik bangunan tidak tercatat secara sistematis karena dokumen masih berbentuk dua dimensi yang terpisah-pisah antara aspek arsitektur, mekanis, dan sipil.
"Sering kali itu jadi hambatan dalam proses pemeliharaan. Dampaknya, penilaian kondisi menjadi tidak akurat, keputusan sering diambil tanpa dukungan data kondisi aktual," jelas Ibnu Syamsi, Kamis, 22 Januari 2026. Kondisi ini memicu inefisiensi biaya serta kesulitan dalam melakukan asesmen bangunan secara mendalam.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Ibnu menekankan pentingnya tiga poin utama: data spasial yang presisi, kesiapan sumber daya manusia (SDM), dan teknologi yang terintegrasi. Sejak tahun 2020, perkembangan digital konstruksi di Indonesia bahkan telah terintegrasi hingga ke tahap pengadaan (procurement).
Bagi bangunan yang sudah berdiri, tetapi tidak memiliki data digital akurat, terdapat teknologi bernama Scan to BIM. Ibnu menyebut metode ini sebagai proses terbalik atau reverse construction. "Intinya di Scan to BIM adalah teknologi mengonversi aset existing menjadi data digital yang terstruktur. Kalau boleh saya bilang, ini istilahnya reserve construction. Prosesnya kebalik dari bentuk fisik menjadi bentuk digital dengan cara scanning," ungkapnya.
Teknologi BIM mengandalkan tiga perangkat utama, yaitu terrestrial laser scanning (TLS), simultaneous localization and mapping (SLAM), dan unmanned aerial vehicle (UAV) atau drone. Data hasil pemindaian kemudian diolah menggunakan perangkat lunak canggih, seperti Leica, Cyclone, Global Mapper, hingga Autodesk Revit dan Enscape untuk menghasilkan model tiga dimensi yang informatif.
Amor Cakra Pridasmara dari GeoBIM Indonesia, yang juga menjadi narasumber webinar bertajuk "Scan to BIM for Facility Management" ini, menambahkan bahwa Scan to BIM memiliki peran vital, terutama pada bangunan tua atau cagar budaya yang minim dokumentasi asli. "Fasilitas manajemen berfungsi mengelola, sementara Scan to BIM adalah proses melakukan scanning dari bangunan yang sudah existing. Jadi, concern-nya pada bangunan-bangunan lama yang bersifat heritage," ujar Amor.
Menurutnya, banyak bangunan bersejarah tidak memiliki dokumen as-built yang diperbarui. Melalui Scan to BIM, terbentuklah point cloud yang menjadi dasar pemodelan akurat untuk kebutuhan restorasi maupun pengelolaan jangka panjang.
Sebagai akademisi, Ibnu Syamsi menegaskan bahwa peran kampus adalah mengembangkan kerangka ilmiah dan menyiapkan SDM yang kompeten. Kemitraan antara pemerintah, industri, dan akademisi menjadi kunci utama pendorong transformasi digital infrastruktur. Namun, Ibnu mengingatkan bahwa teknologi hanyalah awal dari pengelolaan aset yang panjang.
"Scan to bim bukanlah tujuan akhir. Jadi, ketika sudah jadi digital itu bukan berarti selesai. Setelah dibuat BIM, itu adalah awal dari facility management yang cerdas dan berkelanjutan," tutup Ibnu.