Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang beranggotakan akademisi dan mahasiswa menghadirkan sebuah terobosan berbasis teknologi geospasial sebagai sarana informasi kebencanaan di Sumatera. Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan dirancang untuk memetakan dampak, kebutuhan korban, dan tingkat kerusakan secara real-time.
Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., menegaskan bahwa inisiatif ini muncul untuk menjawab persoalan klasik dalam manajemen bencana. “Dalam banyak kejadian bencana, bantuan sering tidak merata karena tidak didukung data spasial yang akurat. Kami ingin mengubah pola tersebut dari berbasis asumsi menjadi berbasis data,” ujarnya, Sabtu, 3 Januari 2026 dilansir dari laman resmi UGM.
Geoportal ini dibangun dengan mengintegrasikan berbagai teknologi geospasial: WebGIS partisipatif, citra satelit resolusi tinggi, crowdsourcing spasial, serta analisis before–after berbasis pengindraan jauh. Seluruhnya dirancang untuk mempercepat proses identifikasi area terdampak dan kebutuhan mendesak selama fase tanggap darurat. Enam jenis peta diproduksi untuk memandu pengambilan keputusan di lapangan, yaitu peta status fasilitas kesehatan dan shelter; peta permukiman terdampak; needs map; peta area terdampak banjir; peta perbandingan before–after, dan peta aksesibilitas jaringan jalan.
Wakil Dekan Fakultas Geografi UGM, Dr. Sigit Heru Murti B.S., S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa WebGIS dikembangkan dengan model crowdsourcing spasial yang memungkinkan warga menjadi pelapor langsung. “Kami mengembangkan WebGIS agar masyarakat terdampak bisa melaporkan secara langsung kebutuhan mereka, lengkap dengan lokasi dan kontak person. Dosen dan mahasiswa di kampus bertindak sebagai ‘dapur data’ untuk memverifikasi laporan tersebut,” terangnya.
Teknologi pengindraan jauh menjadi elemen krusial lainnya. Dr. Nur Mohammad Farda, S.Si., M.Cs., menjelaskan bahwa tim memperoleh citra satelit resolusi tinggi dari Disasters Charter PBB melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Data tersebut dianalisis untuk memetakan tingkat kerusakan permukiman dan pola sebaran banjir dalam hitungan jam. “Kami melakukan interpretasi citra satelit dari portal Disasters Charter untuk mengidentifikasi permukiman terdampak banjir dan memetakan tingkat kerusakan secara cepat pada fase emergency,” jelas Farda.
Salah satu hasil yang paling signifikan adalah ketika Needs Map pertama dipublikasikan pada 6 Desember 2025 dan langsung diadopsi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ke dalam Dashboard WebGIS InaRISK. Hanya dalam waktu 12 jam, sudah masuk 54 laporan dari lokasi terdampak.
