Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Keamanan Kemhan Bekali Jurnalis Pelatihan GPS dan Prosedur...
Keamanan

Kemhan Bekali Jurnalis Pelatihan GPS dan Prosedur Darurat untuk Perkuat Keselamatan Liputan di Wilayah Rawan

Kemhan Bekali Jurnalis Pelatihan GPS dan Prosedur Darurat untuk Perkuat Keselamatan Liputan di Wilayah Rawan

Di tengah meningkatnya intensitas bencana alam dan kompleksitas liputan di wilayah berisiko tinggi, keselamatan jurnalis di lapangan menjadi perhatian serius. Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengambil langkah konkret dengan membekali awak media kemampuan navigasi dan prosedur kedaruratan, agar peliputan tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek keamanan diri.

Pelatihan tersebut digelar di Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad Sanggabuana, Karawang, sebagai bagian dari program “Kemhan Bekali Awak Media Prosedur Kedaruratan di Daerah Rawan untuk Tingkatkan Keselamatan” yang berlangsung pada 15–20 Desember 2025. Sebanyak 42 jurnalis dari berbagai platform televisi, media daring, cetak, hingga radio ikut ambil bagian dalam pembekalan ini.

Salah satu materi utama adalah penguasaan Global Positioning System (GPS) yang dinilai krusial bagi jurnalis lapangan, terutama saat meliput di daerah terdampak bencana atau wilayah dengan akses terbatas. Pelatih Menlatpur Kostrad, Kapten Infanteri Syaepurrahman, menegaskan pentingnya keterampilan navigasi dalam situasi darurat. “Dalam situasi darurat, jalur bisa terputus dan komunikasi terbatas. GPS membantu menentukan posisi, membaca koordinat, serta mencari rute alternatif agar tetap bisa bergerak dengan aman,” ujarnya dikutip dari RM.id, Kamis, 18 Desember 2025.

Pembekalan dilakukan secara bertahap, dimulai dari pemahaman teori mengenai fungsi dan prinsip kerja GPS, cara membaca koordinat, hingga menentukan titik awal dan tujuan. Setelah itu, para peserta mengikuti praktik lapangan melalui simulasi nyata agar terbiasa menggunakan perangkat navigasi di medan sebenarnya.

Latihan tidak berhenti pada siang hari. Para jurnalis juga dilatih membaca GPS yang dipadukan dengan Kompas Prisma pada malam hari, dengan fokus menjaga orientasi arah dalam kondisi minim cahaya, menentukan azimut, serta menerapkan prosedur keselamatan saat bergerak di malam hari. Syaepurrahman menekankan bahwa navigasi membutuhkan ketelitian dan disiplin tinggi karena akurasi alat dapat dipengaruhi faktor medan, cuaca, hingga gangguan benda logam.

Gambar 1

Tak hanya soal navigasi, Kemhan juga membekali peserta dengan pengetahuan Tactical Combat Casualty Care (TCCC), sebuah keterampilan penanganan awal korban trauma di lingkungan berisiko. Materi ini disampaikan oleh Kapten Ckm Jeffri Ginting, yang menekankan bahwa TCCC sangat menentukan keselamatan korban sebelum mendapatkan perawatan medis lanjutan.

Pembekalan TCCC dilengkapi dengan simulasi lapangan yang mencakup penerapan metode MARCH, yakni Massive Hemorrhage (Perdarahan Masif), Airway (Jalan Napas), Respiration (Pernapasan), Circulation (Sirkulasi), dan Head Injury/Hypothermia (Cedera Kepala/Hipotermia). Melalui simulasi ini, jurnalis dilatih untuk merespons cepat dan tepat sesuai kondisi taktis di lapangan.

Dengan pembekalan navigasi dan penanganan kedaruratan ini, Kemhan berharap para jurnalis memiliki kesiapan mitigasi risiko yang lebih baik. Bekal tersebut diharapkan tidak hanya mendukung profesionalisme kerja jurnalistik, tetapi juga memastikan keselamatan awak media saat menjalankan tugas di wilayah rawan bencana maupun area berisiko tinggi.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!