Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan pentingnya keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam penguatan mitigasi bencana berbasis data geospasial. Hal ini disampaikan Ketua Program Studi Magister dan Doktor Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Dr. Irwan Gumilar, S.T., M.Si., dalam Forum Diskusi Inovasi Sesi 3 pada gelaran Pameran Hasil Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (PRIMA) x CEO Summit ITB 2025 di ITB Innovation Park Bandung Technopolis. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa universitas memiliki peran strategis sebagai pusat riset dan inovasi untuk menjawab tantangan kebencanaan, khususnya di tengah keterbatasan anggaran dan beragamnya tingkat kesiapan daerah dalam memanfaatkan teknologi.
Dr. Irwan menekankan bahwa data geospasial kini tidak lagi sekadar berfungsi sebagai alat pendukung sistem peringatan dini. Teknologi pemetaan telah menjadi fondasi penting dalam berbagai aspek pembangunan berkelanjutan, termasuk perencanaan wilayah, pengelolaan infrastruktur, dan pengurangan risiko bencana. Dalam perspektif analisis geospasial, integrasi data spasial memungkinkan identifikasi wilayah rawan secara lebih presisi, sekaligus membantu pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah. Dengan pemanfaatan teknologi, seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Robotic Total Station (RTS), pergerakan tiga dimensi permukaan bumi ataupun struktur buatan dapat dipantau secara real time. Informasi ini menjadi kunci untuk mendeteksi gejala awal bencana, seperti pergerakan tanah, aktivitas vulkanik, hingga degradasi infrastruktur.
Untuk menjawab tantangan keterbatasan sumber daya, ITB melalui Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika mengembangkan sistem monitoring bencana berbasis GNSS berbiaya rendah. Inovasi ini dirancang agar lebih adaptif dan mudah diterapkan di daerah-daerah dengan kapasitas fiskal terbatas. Purwarupa teknologi tersebut telah diuji untuk memantau penurunan muka tanah di wilayah Cekungan Bandung dan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi. Langkah ini menunjukkan bahwa riset kampus mampu menghasilkan solusi praktis yang relevan dengan kebutuhan lapangan, sekaligus berpotensi dikembangkan melalui kerja sama industri internasional.
Dalam analisis kebencanaan, Dr. Irwan juga menyoroti bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada aspek teknologi, melainkan juga pada kesiapan sosial masyarakat dan pemerintah daerah. Teknologi canggih membutuhkan pemahaman, adaptasi, dan pemeliharaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, sosialisasi dan peningkatan kapasitas masyarakat menjadi elemen penting dalam keberhasilan mitigasi bencana berbasis geospasial. Ia mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah dan swasta, dengan memanfaatkan skema pendanaan, seperti corporate social responsibility, untuk mendukung penerapan teknologi di kawasan rawan bencana.
Di tengah isu efisiensi anggaran kebencanaan tahun 2025, ITB melihat peluang bagi inovasi dalam negeri untuk tampil sebagai alternatif solusi. Pengembangan teknologi oleh perguruan tinggi dan lembaga riset nasional dinilai mampu menyediakan opsi yang lebih terjangkau sekaligus mendorong hilirisasi hasil riset. Optimalisasi konsep kolaborasi triple helix atau penta helix menjadi strategi penting dalam membangun kesiapan teknologi dan memperkuat sistem mitigasi bencana berbasis data geospasial secara berkelanjutan.