Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan akan sistem navigasi dan pemetaan yang lebih tangguh makin mendesak seiring meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur digital. Perkembangan teknologi geospasial yang kian kompleks serta ketergantungan masyarakat terhadap perangkat internet of things (IoT) menempatkan sensor, jaringan, dan sistem navigasi pada posisi risiko yang tinggi. Oleh karena itu, isu mengenai ketahanan GPS dan IoT kini menjadi perhatian kritis bagi pemerintah Amerika Serikat (AS), industri, dan para peneliti geospasial.
Ketergantungan yang besar terhadap GPS dipandang tidak hanya berpengaruh pada navigasi, tetapi juga keamanan nasional, stabilitas ekonomi, dan keberlangsungan aktivitas masyarakat. Pemerintah menegaskan bahwa Amerika harus segera mengembangkan alternatif PNT (positioning, navigation, timing) yang kuat di luar satelit untuk mengurangi potensi kerentanan terhadap gangguan dan serangan siber.
Z-Wave Alliance, dikutip dari GPS World, menyatakan bahwa mereka mendukung penuh upaya pemerintah dalam memperkuat infrastruktur PNT nasional. Organisasi tersebut telah berperan aktif dalam kajian Federal Communications Commission (FCC) dan program Complementary PNT (CPNT) milik Departemen Transportasi, dengan memberikan data teknis untuk menilai solusi terestrial maupun satelit yang dapat berdampingan dengan teknologi IoT yang digunakan jutaan perangkat di seluruh negeri. Upaya ini merupakan bentuk kontribusi industri dalam memastikan bahwa sistem geospasial nasional tetap aman dan tangguh.
Risiko terbesar mencuat ketika NextNav mengusulkan restrukturisasi sebagian spektrum 900 MHz untuk membangun jaringan PNT berbasis 5G. Rencana tersebut memungkinkan penggunaan daya tinggi yang dapat mengganggu perangkat IoT berdaya rendah. Padahal, spektrum itu menjadi tulang punggung ratusan juta sistem, seperti sensor keamanan, pembaca tol otomatis, smart meter, dan perangkat rumah pintar.
Studi teknis, termasuk analisis Pericle Communications, menunjukkan bahwa sinyal PNT berdaya tinggi berpotensi menimbulkan gangguan hingga 60 persen, menyebabkan sensor gagal berfungsi, alarm tidak aktif, serta hilangnya konektivitas perangkat yang melindungi infrastruktur penting. Kerusakan ini tidak dapat diperbaiki melalui retrofit sehingga berpotensi menimbulkan kerugian miliaran dolar.
Meskipun demikian, pemerintah tidak menolak konsep PNT terestrial. Pendekatannya adalah memastikan bahwa setiap teknologi alternatif harus dievaluasi berbasis bukti. Departemen Transportasi telah mengidentifikasi beberapa solusi pelengkap GPS, seperti satelit orbit rendah, distribusi waktu melalui jaringan fiber optik, sistem map matching, hingga teknologi RF terestrial. FCC juga memilih membuka Notice of Inquiry secara luas pada 2025 agar keputusan tidak dibuat secara tergesa. Teknologi seperti Broadcast Positioning System dan eLoran membuktikan bahwa PNT darat dapat dikembangkan tanpa menyingkirkan perangkat berlisensi rendah yang telah ada.
Prinsip koeksistensi tetap menjadi standar utama ekosistem nirkabel modern, di mana teknologi baru harus mampu hidup berdampingan dalam spektrum yang padat. Z-Wave Alliance menekankan bahwa Amerika membutuhkan cadangan GPS yang kokoh, namun langkah tersebut tidak boleh mengorbankan stabilitas jutaan perangkat IoT yang telah terintegrasi dalam keamanan, otomasi, dan infrastruktur nasional. Pendekatan yang dibangun adalah ketahanan berbasis koeksistensi, bukan penggantian yang merusak fondasi teknologi yang sudah berjalan baik.
