Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan perubahan garis pantai di kawasan pantai utara (Pantura) Jawa. Langkah inovatif ini diambil guna menghasilkan pemantauan yang lebih akurat terhadap kawasan pesisir yang terus berubah akibat faktor alam maupun aktivitas manusia.
Dalam riset ini, tim peneliti BRIN mengandalkan citra satelit Sentinel-2 yang dipadukan dengan model deep learning bernama U-Net. Teknologi tersebut mampu memisahkan area daratan dan lautan secara otomatis, bahkan di kawasan pesisir Pantura yang memiliki karakteristik sangat kompleks.
Akurasi Tinggi di Wilayah Padat Penduduk
Peneliti Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Edwin Adi Wiguna, menegaskan bahwa kawasan Pantura Jawa merupakan wilayah yang sangat strategis sekaligus padat penduduk. Sayangnya, kawasan ini terus dihantui oleh berbagai ancaman lingkungan yang serius.
"Pemanfaatan model U-Net memungkinkan identifikasi batas darat dan laut secara lebih presisi. Hasil pengujian menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi dengan nilai intersection over union mencapai sekitar 92 persen," jelas Edwin melalui siaran pers BRIN.
Proses ekstraksi ini melalui beberapa tahapan sistematis, mulai dari penyusunan basis data (dataset), pelatihan model AI, hingga segmentasi citra. Sistem kecerdasan buatan ini terbukti bekerja sangat baik ketika membaca area pantai yang berpasir dan berkerikil.
Tantangan di Kawasan Tambak dan Pesisir Berlumpur
Meskipun memiliki tingkat akurasi yang tinggi, teknologi ini bukannya tanpa kendala. Para peneliti menemukan tantangan tersendiri saat memetakan wilayah pantai yang berlumpur, terutama di sekitar kawasan tambak. Hal ini dikarenakan area tersebut memiliki kemiripan warna dan karakteristik spektral dengan perairan dangkal jika dilihat dari satelit.
Secara kuantitatif, rata-rata penyimpangan atau deviasi hasil ekstraksi garis pantai ini berkisar di angka 55,73 meter dari data referensi asli. Pada area yang sangat rumit dan berlumpur, tingkat kesalahan maksimumnya bahkan bisa menyentuh angka 326,45 meter. Namun, secara keseluruhan, model AI ini dinilai tetap konsisten dan andal dalam memproses data di tengah rumitnya lanskap pesisir utara Jawa.
Penggunaan satelit dan AI ini menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki oleh metode konvensional, yaitu efisiensi biaya dan waktu. Edwin menambahkan bahwa potensi teknologi ini sangat besar untuk menunjang kerja pemerintah daerah dalam melakukan pengawasan rutin.
"Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk observasi garis pantai secara berkala dengan biaya yang lebih rendah sehingga membantu pemerintah dalam pengambilan kebijakan berbasis data, khususnya terkait mitigasi abrasi, banjir rob, dan perubahan garis pantai," lanjut Edwin.
