Seiring meningkatnya kebutuhan akan kebijakan berbasis bukti, data spasial memegang peran kunci dalam memastikan setiap keputusan pembangunan memiliki dasar yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika sistem referensi geospasial tidak seragam atau kualitas data tidak terjaga, analisis spasial berpotensi menghasilkan bias yang berdampak langsung pada perencanaan wilayah, pembangunan infrastruktur, hingga mitigasi bencana. Kesadaran akan risiko tersebut mendorong Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk memperkuat peran Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI) sebagai fondasi utama integrasi data spasial nasional yang presisi dan berkelanjutan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui langkah konkret Direktorat Sistem Referensi Geospasial (SRG) BIG dengan menyelenggarakan focus group discussion (FGD) yang melibatkan para pakar geodesi dan geomatika. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi keilmuan sekaligus menyempurnakan produk layanan SRGI. Dalam kerangka analisis geospasial, SRGI diposisikan sebagai referensi tunggal yang memastikan seluruh data berbasis lokasi di Indonesia berada dalam satu sistem koordinat yang konsisten dan andal.
FGD ini menitikberatkan pada penguatan produk layanan SRGI sebagai dasar seluruh aktivitas pemetaan dan pengembangan teknologi geospasial. BIG menilai bahwa akurasi, kemutakhiran, serta kemudahan akses sistem referensi menjadi prasyarat utama bagi pengambilan keputusan berbasis data. Kualitas sistem referensi yang baik akan langsung memengaruhi validitas analisis spasial lintas sektor, mulai dari penataan ruang, pembangunan infrastruktur, hingga penilaian risiko kebencanaan.
Produk layanan SRGI saat ini telah dimanfaatkan secara luas, mulai dari penyusunan peta dasar RDTR, navigasi pelayaran, pemetaan wilayah pesisir, hingga analisis kebencanaan. Dengan cakupan tersebut, SRGI berfungsi sebagai jembatan antara data teknis geodesi dan kebutuhan kebijakan pembangunan yang menuntut ketelitian spasial tinggi. Keberadaan sistem referensi yang seragam memastikan seluruh proses perencanaan berjalan di atas basis data yang sama.
Para pakar menyoroti pentingnya keandalan sistem referensi horizontal dan vertikal dalam menjaga konsistensi data geospasial nasional. Penguatan jaring kontrol geodesi, modernisasi infrastruktur referensi, serta penerapan manajemen kualitas melalui quality control, quality engineering, dan quality assurance dipandang krusial untuk menjaga kredibilitas data SRGI.
Melalui FGD ini, BIG menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan SRGI agar adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna. Kolaborasi lintas direktorat memperkuat posisi SRGI sebagai tulang punggung ekosistem geospasial nasional, sekaligus sebagai pilar penting dalam mendukung pembangunan berbasis data dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
