Amerika Serikat (AS) dan India makin memperkuat kerja sama di bidang intelijen geospasial (geospatial intelligence) sebagai bagian dari percepatan strategi Indo-Pasifik. Melalui perjanjian Basic Exchange and Cooperation Agreement (BECA), kedua negara kini sepakat untuk bertukar informasi mengenai intelijen geospasial berupa peta gravitasi, aeronautika, geodetika, hingga citra satelit resolusi tinggi.
Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat interoperabilitas militer, tetapi juga meningkatkan akurasi sistem navigasi dan persenjataan India, mulai dari drone, rudal jelajah, hingga sistem penargetan presisi. Menurut laporan Defense News, kesepakatan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam hubungan pertahanan AS–India yang makin erat di tengah ketegangan dengan Tiongkok.
Selain itu, kerja sama juga meluas ke sektor maritim. Melalui integrasi teknologi, seperti SeaVision dan HawkEye 360, India kini dapat memantau lalu lintas kapal di Samudra Hindia dengan lebih efektif, termasuk mendeteksi aktivitas kapal “gelap” yang mematikan transponder. Hal ini menjadi krusial mengingat kawasan tersebut merupakan jalur strategis perdagangan global yang rawan penyelundupan dan konflik.
Baca juga: India Manfaatkan Teknologi Geospasial untuk Urai Ketegangan Geopolitik di Timur Laut
Pada saat yang sama, kerja sama luar angkasa juga makin intensif. AS dan India menandatangani perjanjian Space Situational Awareness untuk berbagi data terkait objek luar angkasa dan pelacakan debris satelit. India pun terlibat dalam latihan Global Sentinel bersama U.S. Space Command dan tengah mengembangkan satelit observasi Bumi bersama NASA melalui misi NISAR, yang mampu memetakan permukaan bumi setiap 12 hari sekali.
