Pergantian pelatih tim nasional selalu menjadi momentum penting dalam perjalanan sepak bola Indonesia, terlebih ketika terjadi setelah kegagalan mencapai target lolos Piala Dunia 2026 dan berujung pada berakhirnya era kepelatihan Patrick Kluivert. Federasi mengambil langkah strategis dengan menunjuk sosok baru yang dinilai memiliki pengalaman membangun tim dari nol. PSSI secara resmi mempercayakan kursi pelatih kepala kepada John Herdman, pelatih asal Inggris berusia 50 tahun yang dikenal sukses mengangkat level tim nasional Kanada hingga tampil di Piala Dunia 2022.
Menariknya, dalam wawancara bersama The Canadian Press, ia mengungkapkan alasannya melatih Indonesia. Dalam pandangan Herdman, tantangan melatih Indonesia justru menarik karena negara ini memiliki karakter unik yang jarang dimiliki tim lain. Ia memandang proyek timnas Indonesia sebagai proyek yang sarat gairah publik, dukungan suporter, serta komitmen federasi untuk membangun kebiasaan lolos ke turnamen besar. Faktor-faktor tersebut dinilainya sebagai fondasi non-teknis yang sangat penting dalam membangun tim nasional yang kompetitif dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Herdman menekankan bahwa keunggulan utama Indonesia terletak pada faktor geografis dan kemampuan diaspora para pemain keturunannya. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan wilayah yang membentang luas sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki sebaran potensi pemain yang sangat besar. Kondisi ini menciptakan banyak kantong talenta di berbagai daerah, yang apabila dipetakan dan diintegrasikan dengan sistem pembinaan yang tepat, mampu memperluas basis pemain timnas secara signifikan.
Aspek lain yang dianggap krusial adalah geospasial diaspora. Herdman melihat Indonesia memiliki kesamaan dengan Kanada, yakni sama-sama negara besar dengan populasi diaspora yang tersebar di berbagai belahan dunia. Keberadaan pemain keturunan Indonesia di Eropa dan Amerika Utara memperluas ruang pencarian talenta melampaui batas geografis nasional. Menurutnya, kombinasi antara pemain lokal dan pemain dual-national memungkinkan transfer pengalaman, kultur profesional, serta standar kompetisi yang lebih tinggi ke dalam tubuh tim nasional.
Pendekatan ini juga berkaitan erat dengan pengalamannya di Kanada, di mana analisis hal serupa digunakan untuk memahami persebaran pemain, jalur pengembangan, hingga tantangan logistik dan adaptasi budaya. Ia menilai Indonesia berada pada tahap serupa, dengan potensi besar yang menunggu untuk diorganisasi secara sistematis.
Selain itu, kekuatan sepak bola Indonesia juga ditopang oleh basis penggemar yang masif dan kompetisi domestik yang tersebar di banyak wilayah. Fanatisme suporter dan atmosfer stadion di berbagai kota menjadi keunggulan geospasial tersendiri yang dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan psikologis. Kombinasi populasi besar, diaspora global, dan dukungan publik inilah yang dipandang Herdman sebagai modal strategis Indonesia untuk melangkah lebih jauh di panggung internasional.
