Dalam era ketika dominasi teknologi menjadi faktor penentu kekuatan global, Tiongkok menempatkan kemandirian di bidang navigasi satelit sebagai pilar utama strategi geopolitiknya. Melalui Beidou Satellite Navigation System (BDS), negeri Tirai Bambu berupaya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap sistem GPS milik Amerika Serikat. Sistem ini tidak hanya menjadi simbol kemajuan teknologi, tetapi juga alat strategis untuk memperkuat kedaulatan informasi dan memperluas pengaruh geospasial Tiongkok di tingkat global.
Dilansir dari Extreme Nation News, sistem Beidou merupakan perwujudan konkret dari visi Presiden Xi Jinping tentang pentingnya kemandirian teknologi nasional. Ketergantungan terhadap sistem navigasi asing dianggap sebagai kelemahan strategis yang dapat mengancam keamanan negara, terutama dalam konteks pertahanan dan kontrol data spasial. Oleh karena itu, pengembangan Beidou dimasukkan dalam prioritas utama Rencana Lima Tahun ke-14 yang menekankan penguatan sains dan teknologi.
Melalui riset panjang dan inovasi besar-besaran, Tiongkok berhasil mengembangkan komponen vital yang menjadi “jantung” sistem navigasi satelit secara mandiri. Langkah ini menghindarkan Tiongkok dari potensi sabotase dan risiko ketergantungan asing yang sempat disorot setelah insiden serangan siber terhadap National Time Service Center.
Kemandirian teknologi tersebut tidak hanya menegaskan kemampuan Tiongkok untuk berdiri sendiri di bidang geospasial, tetapi juga menghadirkan keunggulan fungsional yang membedakannya dari sistem navigasi lain. Beidou dilengkapi dengan layanan pesan singkat dua arah (two-way short message service) yang memungkinkan komunikasi taktis di wilayah tanpa jaringan seluler. Fitur ini menjadi penting bagi operasi militer, tanggap darurat, ataupun keamanan maritim, menjadikan Beidou sebagai sistem yang berperan dalam memperkuat stabilitas dan keamanan informasi di dalam maupun luar negeri.
Lebih jauh, Beidou kini menjadi tulang punggung geospasial dari proyek ambisius Digital Silk Road (DSR), bagian dari Belt and Road Initiative (BRI). Melalui penyebaran cip BDS berbiaya rendah di negara-negara mitra, Tiongkok secara perlahan menggantikan standar navigasi Barat. Sistem ini telah diakui oleh sebelas organisasi internasional, seperti International Maritime Organization (IMO) dan International Civil Aviation Organization (ICAO), yang menandai transformasi global menuju norma baru yang menguntungkan Beijing. Strategi ini tidak hanya memperluas jangkauan Beidou, tetapi juga menciptakan ketergantungan data spasial yang memberi Tiongkok akses terhadap informasi posisi yang bernilai tinggi secara ekonomi dan militer.
Selain itu, kerja sama antara Tiongkok dan Rusia makin memperkuat posisi Beidou di kancah internasional. Sejak perjanjian tahun 2022, Beidou diintegrasikan dengan sistem Glonass milik Rusia, menciptakan blok teknologi alternatif terhadap dominasi GPS Barat. Kolaborasi ini meningkatkan ketahanan kedua sistem dari gangguan eksternal dan memperluas pengaruh geospasial mereka.
Tak berhenti pada Beidou, Tiongkok juga menargetkan pembangunan sistem Positioning, Navigation, and Timing (PNT) terpadu, yaitu sistem yang menyediakan lokasi, rute dan arah, serta waktu yang akurat, pada tahun 2035. Langkah ini akan memperkuat dominasi Tiongkok di sektor geospasial global dan menjadikan Beidou lebih dari sekadar alat navigasi, bahkan diyakini sebagai instrumen strategis dalam membentuk tatanan teknologi dan informasi dunia yang makin berpihak pada kepentingan nasional Tiongkok.
