Cuaca ekstrem berupa hujan deras selama lebih dari dua hari, 24–25 November 2025, memicu banjir bandang dan longsor masif di Kota Sibolga serta Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Utara (Taput), dan Tapanuli Selatan (Tapsel).
Dari perspektif geospasial, data Pusdalops BNPB per Rabu, 26 November 2025 pukul 07.00 WIB menggambarkan pola spasial yang jelas. Banjir mendominasi dataran rendah pesisir dan sungai, sementara longsor merusak lereng perbukitan di utara Pulau Sumatera, dengan Sibolga sebagai pusat rawan karena topografi curam dan drainase urban yang terbatas.
Pemetaan Dampak: Banjir di Kota, Longsor di Pinggiran
Berdasarkan laporan BNPB, banjir melanda empat kelurahan utama di Sibolga: Angin Nauli (Sibolga Utara), Aek Muara Pinang dan Aek Habil (Sibolga Selatan), serta Pasar Belakang dan Pasar Baru (Sibolga Kota). Visual satelit dan radar cuaca BMKG menunjukkan aliran air deras dari Pegunungan Tapanuli mengalir ke selatan, membawa lumpur, puing kayu, dan sampah rumah tangga yang menghantam rumah, ruko, dan infrastruktur. Secara spasial, wilayah ini membentuk koridor banjir seluas sekitar 5–10 km² di ketinggian <50 mdpl, dengan debit sungai Aek Sibolga melonjak 200–300 persen di atas normal (data radar Doppler BMKG).
Longsor lebih parah di zona perbukitan dengan lima belas kelurahan terdampak, termasuk Angin Nauli, Simare-mare, Sibolga Hilir (Sibolga Utara); Parombunan, Aek Mani (Sibolga Selatan); Pancuran Bambu, Pancuran Dewa, Pancuran Kerambil (Sibolga Sambas); serta Pasar Belakang, Pasar Baru, Pancuran Gerobak (Sibolga Kota). Peta tematik (akses dari InaRISK) menunjukkan daerah Sibolga-Tapanuli memang merupakan "hotspot" bencana tanah longsor. Sementara, peta kontur GIS BNPB mengidentifikasi lereng >30° sebagai pemicu utama, dengan material longsor menghalangi akses jalan utama, seperti Jalan Sibolga Utara–Selatan. Dampaknya, seorang warga luka-luka (sudah dirawat), tiga rumah dan sebuah ruko rusak, serta beberapa jalan terputus yang mengisolasi 500 lebih rumah tangga.
Di Tapteng, banjir merendam 1.902 rumah di sembilan kecamatan (Pandan, Sarudik, Badiri, Kolang, Tukka, Lumut, Barus, Sorkam, Pinangsori), dengan jarak 50 km sepanjang pantai barat. Radar hujan BMKG mendeteksi curah >200 mm/hari, membanjiri dataran aluvial Aek Badiri. Sementara itu, berdasarkan laporan detikSumut, banjir dan longsor menyebabkan jaringan telekomunikasi terputus, dan empat orang meninggal dunia di Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Tapteng.
Kabupaten Taput mengalami kerusakan infrastruktur yang signifikan dengan lima puluh unit rumah terdampak, serta dua jembatan yang terputus akibat banjir dan longsor. Untuk mengatasi hambatan akses yang memisahkan beberapa desa, tim penanggulangan merekomendasikan jalur alternatif Pangaribuan-Silantom sebagai akses sementara untuk menghubungkan wilayah yang terisolasi.
Tragedi fatal di Tapsel menyebabkan delapan jiwa tewas, 58 luka, dan 2.851 mengungsi di sebelas kecamatan (Sipirok, Marancar, Batangtoru, dan lain-lain). Pola spasial hampir mirip, dengan longsor di pegunungan Angkola memblokir akses ke pedalaman.
Sampai Rabu pagi, Pusdalops BNPB masih terus menghimpun data dengan keterbatasan akibat putusnya jaringan telekomunikasi. Pihak penanggulangan bencana menekankan pentingnya pemetaan spasial yang akurat untuk mengidentifikasi wilayah yang masih terisolasi dan mengalokasikan bantuan secara efektif. Cuaca di wilayah tersebut masih diperhatikan secara ketat untuk mencegah terjadinya bencana kembali di zona risiko yang sudah lemah akibat hujan deras.