Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Internasional Inilah Kemampuan Radar Qatar Seharga Rp16 Triliun...
Internasional

Inilah Kemampuan Radar Qatar Seharga Rp16 Triliun yang Berhasil Dihancurkan oleh Iran

Inilah Kemampuan Radar Qatar Seharga Rp16 Triliun yang Berhasil Dihancurkan oleh Iran

Serangan rudal dan drone Iran pada 28 Februari 2026 menjadi salah satu eskalasi paling serius di kawasan Teluk dalam beberapa tahun terakhir. Targetnya bukan sembarang fasilitas, melainkan infrastruktur militer Amerika Serikat di Qatar yang berada di sekitar Al Udeid Air Base. Pangkalan ini dikenal sebagai instalasi militer terbesar AS di Timur Tengah dan berfungsi sebagai pusat koordinasi operasi udara sekaligus pengawasan kawasan Teluk.

Jika dilihat dari lokasinya, posisinya sangat strategis karena terletak di antara Teluk Persia dan jalur udara vital yang menghubungkan Timur Tengah dengan Asia serta Eropa. Artinya, gangguan di titik ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga berpotensi memengaruhi keseimbangan militer regional secara luas.

Di antara berbagai fasilitas yang ada, target paling krusial dalam serangan tersebut adalah radar peringatan dini balistik AN/FPS-132 Block 5. Dilansir dari Tribune, sistem ini diperkirakan bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16 triliun. Radar tersebut bukan alat untuk mengoordinasikan penyerangan, melainkan bagian dari jaringan global Amerika Serikat dalam mendeteksi peluncuran rudal balistik dari jarak jauh. Dengan jangkauan hampir 5.000 kilometer, radar ini mampu memberikan peringatan awal hanya dalam hitungan menit setelah sebuah rudal diluncurkan.

Secara sederhana, sistem ini bekerja seperti alarm raksasa. Ketika ada rudal musuh meluncur, sensor berbasis satelit akan lebih dulu menangkap kilatan panasnya dari luar angkasa. Setelah itu, radar darat, seperti AN/FPS-132, mengambil alih tugas pelacakan, menghitung arah, kecepatan, dan potensi titik jatuh rudal secara lebih rinci. Dilansir dari TurDef, data tersebut kemudian diteruskan ke sistem pertahanan, seperti MIM-104 Patriot atau Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), untuk menentukan cara intersepsi paling efektif sebelum rudal mencapai sasaran. Tanpa dukungan radar ini, waktu reaksi akan jauh lebih sempit dan akurasi pencegatan bisa terganggu.

Perannya sebagai “mata” utama dalam jaringan pertahanan rudal membuat Iran, melalui Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), menjadikan AN/FPS-132 sebagai target prioritas. Upaya melumpuhkan radar tersebut menunjukkan strategi yang lebih dalam daripada sekadar menyerang pangkalan militer. Dengan merusak sistem sensor dan deteksi dini, Iran berusaha mengurangi kemampuan Amerika Serikat dalam membaca situasi udara di kawasan Teluk.

Peristiwa ini menegaskan bahwa dalam perang modern, perebutan kendali informasi sama pentingnya dengan kekuatan senjata itu sendiri. Menghancurkan sistem radar dan jaringan intelijen dapat melemahkan kemampuan respons lawan bahkan sebelum serangan berikutnya diluncurkan. Ketegangan yang terjadi antara Iran dan Amerika-Israel, membuka mata dunia, bahwa konflik bukan hanya soal rudal dan drone, tetapi juga tentang siapa yang mampu melihat lebih dulu, menganalisis lebih cepat, dan bereaksi dengan lebih presisi di medan konflik yang makin berbasis teknologi.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!