Sebuah analisis terbaru berbasis citra satelit dari lembaga kajian Amerika Serikat, Stimson Center, membuka kembali kekhawatiran lama mengenai pencemaran di salah satu lanskap air tawar paling vital di Asia Tenggara. Lembaga tersebut mengidentifikasi 517 lokasi yang diduga merupakan area pertambangan di sepanjang sungai-sungai di Laos, termasuk anak-anak sungai utama Mekong. Mekong merupakan sungai terpanjang di kawasan ini dan sumber kehidupan jutaan warga.
Temuan itu belum diverifikasi di lapangan. Namun, laporan ini selaras dengan kesaksian sejumlah pejabat di Provinsi Attapeu, Laos bagian selatan. Daerah ini tercatat memiliki 188 titik tambang dalam data tersebut. Mereka mengakui praktik tambang ilegal masih marak meski pemerintah berulang kali melakukan penindakan.
“Kami masih melihat pejabat melakukan inspeksi dan menyita peralatan dari tambang ilegal di Attapeu,” ujar salah satu pejabat pemerintah yang berbicara kepada Mongabay dari telepon, dengan syarat tidak disebutkan namanya karena keterbatasan kebebasan pers di Laos.
Isu Regional, dari Arsenik di Thailand hingga Tambang di Myanmar
Analisis ini memperluas pemahaman mengenai skala pertambangan yang menggerogoti daerah aliran sungai di Asia Tenggara daratan. Isu serupa mencuat di Thailand utara awal tahun ini, ketika ditemukan kadar arsenik berbahaya yang mengalir dari tambang emas tak berizin di Negara Bagian Shan, Myanmar.
Lonjakan tambang tanah jarang di Laos dan Myanmar juga menimbulkan kekhawatiran baru: deforestasi, penggusuran komunitas lokal, serta pencemaran lintas batas yang mengalir hingga ke Thailand dan Vietnam. Selain Laos, Stimson juga mengidentifikasi 1.868 tambang di Myanmar, 17 di Kamboja, dan satu di Malaysia, dengan dugaan komoditas berupa emas, logam mulia, hingga logam tanah jarang. Di Kamboja, masyarakat di hilir tambang emas yang diidentifikasi melalui satelit di Provinsi Ratanakiri melaporkan perubahan warna air sungai, gatal-gatal kulit yang parah, dan penurunan populasi ikan.
Seluruh titik tambang diidentifikasi melalui analisis berbulan-bulan menggunakan citra satelit dari Planet Labs. Para peneliti mengenali pola khas, seperti area pengerukan, zona pemrosesan, kolam tailing, hingga kolam pelindian.
Stimson merekomendasikan negara-negara di Mekong untuk segera melakukan pengujian kualitas air, sedimen, tanah aluvial, hingga biota sungai. “Laos, Kamboja, dan Myanmar tertinggal dalam kapasitas laboratorium uji kualitas air, termasuk mandat dan sumber daya manusia untuk melakukan pengujian di sungai-sungai yang jauh dari laboratorium,” kata Brian Eyler, Direktur Program Energi, Air, dan Keberlanjutan Stimson Center di Asia Tenggara.
188 Tambang Mayoritas Tak Terdaftar
Dari 188 tambang di Attapeu, sebanyak 111 berada di Distrik Phouvong. Namun, tidak satu pun tercantum dalam dokumen resmi pemerintah Laos, yang diperoleh Mongabay, yang seharusnya berisi daftar tambang legal per 2023. Hal ini menyiratkan bahwa tambang-tambang tersebut ilegal, tidak terdokumentasi, atau baru beroperasi dalam dua tahun terakhir.
Sebagian besar lokasi berada di Sungai Nam Kong, Xe Xou, dan anak-anak sungai kecil yang bermuara ke sana. Kedua sungai itu merupakan bagian dari aliran menuju Sungai Sekong, salah satu unsur utama dari wilayah penting “3S”, Sekong, Sesan, dan Srepok, yang menyumbang 25% aliran air Mekong. Wilayah DAS ini dikenal sebagai habitat bagi separuh spesies ikan migrasi jarak jauh Mekong serta buaya siam (Crocodylus siamensis) yang kini kritis.
Lonjakan Tambang Baru dan Jejak Vietnam
Dorongan permintaan global, terutama dari Tiongkok untuk emas dan mineral tanah jarang, memicu gelombang pertambangan baru yang sebagian besar tidak teratur. Dari total 517 tambang di Laos, sekitar sepertiga diperkirakan mulai beroperasi pada 2024 atau 2025. Sebanyak 26 di antaranya diidentifikasi sebagai tambang tanah jarang; sisanya diduga menambang emas, nikel, mangan, atau tembaga.
Di Attapeu, dua dari 188 titik tambang terindikasi menggunakan metode heap leaching, atau operasi berukuran besar yang menyimpan risiko kimia lebih tinggi dibanding tambang aluvial kecil yang telah dilarang. Menurut sumber yang memahami sektor pertambangan Laos, sebagian besar operasi besar maupun kecil di wilayah ini diduga dikendalikan oleh pihak Vietnam atau menjual mineral kepada perusahaan Vietnam.
Beberapa tambang besar berada di anak-anak sungai yang mengalir ke Sungai Xe Xou. Meskipun belum ada bukti kontaminasi dari tambang legal, seorang pejabat pemerintah Laos melaporkan penurunan signifikan populasi ikan dan kepiting di sungai tersebut. Kondisi ini dapat diperburuk oleh aktivitas tambang kecil tak berizin yang menggunakan bahan kimia berbahaya dalam jumlah lebih sedikit tetapi tersebar luas.