Prestasi membanggakan datang dari tujuh pelajar Indonesia berusia 15 tahun yang berhasil menciptakan inovasi teknologi pemantau tanah berbasis kecerdasan buatan bernama SoilPIN. Karya ini mengantarkan mereka meraih Medali Emas pada ajang IPITEx 2026 yang digelar di Bangkok, Thailand, sebagaimana diberitakan ANTARA. Pencapaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia memiliki kapasitas intelektual dan kreativitas untuk bersaing di tingkat internasional, sekaligus menghadirkan solusi yang relevan bagi persoalan nyata di dalam negeri, khususnya di sektor pertanian.
Dilansir dari Brawijaya Insider, tim SoilPIN terdiri atas Nazeer Omar Verico, Muhammad Argi Imrantama, Baraputra Nathan Ararya, Bryan Adrian Romeli (Mentari Intercultural School Jakarta), Armand Muhammad Abdullah (British School Jakarta), Shah Jehan Abhiraj Kamal (Mentari Intercultural School Bintaro), dan Kianu Adiara Anggun (Jakarta Intercultural School). Namun, dalam kompetisi di Bangkok, tim diwakili oleh lima personel saja, yaitu Omar, Armand, Argi, Nathan, dan Jehan.
SoilPIN dikembangkan sebagai alat portabel berbentuk pin yang dapat digunakan langsung di lahan pertanian. Inovasi ini berperan penting karena mampu menghasilkan data berbasis lokasi yang akurat. Setiap titik pengukuran tanah merepresentasikan kondisi spesifik suatu area sehingga petani dapat memahami variasi kualitas tanah antarwilayah dalam satu hamparan lahan. Pendekatan ini sangat relevan dengan tantangan pertanian modern yang menuntut pengelolaan lahan berbasis data spasial dan presisi.
Keunggulan utama SoilPIN terletak pada kemampuannya mengukur delapan parameter penting tanah, yakni pH, kelembapan, suhu, salinitas, serta kandungan unsur hara nitrogen, fosfor, dan kalium. Data yang diperoleh langsung dikirim ke aplikasi ponsel dan dianalisis menggunakan AI. Hasil analisis ini tidak hanya menampilkan kondisi tanah, tetapi juga memberikan rekomendasi tindakan perbaikan lahan. Dengan alur tersebut, pengambilan keputusan pertanian menjadi lebih cepat, berbasis data, dan kontekstual sesuai kondisi geografis lokasi.
Inovasi SoilPIN dinilai menjawab kebutuhan riil sektor pertanian, terutama bagi petani kecil dan wilayah dengan keterbatasan akses layanan agronomi. Teknologi yang sederhana, portabel, dan terjangkau membuka peluang pemerataan informasi tanah. Hal ini berarti makin banyak data lapangan yang dapat dikumpulkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan melalui pengelolaan tanah yang lebih tepat.
Sebelum tampil di Bangkok, SoilPIN telah diuji coba di Bandung dan Jakarta untuk memastikan keandalannya di berbagai kondisi lahan. Inovasi ini juga telah memperoleh perlindungan hak cipta dari Kementerian Hukum RI. Pengembangannya kini dihubungkan dengan kebutuhan publik melalui Garuda Spark Innovation Hub agar teknologi ini tidak berhenti sebagai prestasi lomba, melainkan berkembang menjadi solusi yang benar-benar dimanfaatkan petani.
