Selama beberapa dekade, GPS menjadi tulang punggung navigasi global bagi industri, lembaga pemerintah, militer, hingga masyarakat umum. Namun, meski efisien dan berbiaya rendah, sistem ini memiliki titik lemah serius: interferensi. Gangguan berupa GPS denial, jamming, dan spoofing terus meningkat dan kini mengancam keselamatan transportasi, keamanan nasional, hingga keberlangsungan operasi bisnis.
Data IATA menunjukkan lebih dari 580.000 kasus interferensi GNSS dari 18,4 juta penerbangan selama 2021–2024, sementara laporan GPS Spoofing Workgroup mencatat lonjakan insiden dari 300 kasus pada Januari 2024 menjadi 1.500 kasus pada Agustus 2024, bahkan mencapai 41.000 insiden hanya dalam satu bulan. Kondisi ini menunjukkan tingkat kerentanan yang makin kritis.
Sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman tersebut, SandboxAQ memperkenalkan Magnetic Navigation (MagNav), solusi navigasi alternatif yang bekerja tanpa ketergantungan pada satelit. Teknologi ini memanfaatkan variasi medan magnet kerak bumi yang bersifat unik pada setiap lokasi, menyerupai “sidik jari geologis.”
Berdasarkan laporan Geo Week News, dengan menggunakan sensor kuantum dan AI, sistem dapat menangkap anomali magnetik secara presisi dan menghilangkan interferensi sehingga posisi dapat dihitung akurat di segala kondisi, termasuk bawah air. MagNav juga tahan terhadap jamming dan spoofing karena tidak memancarkan sinyal apa pun.
MagNav tidak hanya memberikan navigasi resilien, tetapi juga memperkaya data geospasial. Setiap misi penerbangan menghasilkan pemetaan ulang anomali magnetik dengan resolusi tinggi, sekaligus mengidentifikasi area yang memerlukan pembaruan peta magnetik.
Teknologi ini membuka peluang untuk deteksi perubahan geologi, pemantauan infrastruktur bawah tanah, hingga pemodelan risiko geomagnetik terhadap jaringan listrik dan perkereta-apian. Dengan demikian, MagNav berfungsi ganda sebagai solusi navigasi dan sumber intelijen geospasial dinamis.
