Pengelola Gunung Gede Pangrango menyiapkan langkah baru dalam pengelolaan pendakian dengan mewajibkan seluruh pendaki mengenakan gelang pemancar sinyal berbasis RFID. Kebijakan ini diumumkan secara resmi oleh pengelola kawasan konservasi melalui akun Instagram @ayoketamannasional_official dan menjadi bagian dari strategi peningkatan keselamatan pengunjung yang disusun selama masa penutupan jalur pendakian. Pendekatan ini menandai pergeseran sistem pengamanan dari metode konvensional menuju pemanfaatan teknologi berbasis data lokasi, seiring meningkatnya kompleksitas aktivitas pendakian dan risiko kecelakaan di kawasan pegunungan.
Kebijakan tersebut melibatkan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan (PJL) Kementerian Kehutanan bersama pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Penerapannya didorong oleh evaluasi atas sejumlah kejadian pendaki tersesat dan hilang dalam beberapa tahun terakhir. Secara geospasial, Gunung Gede Pangrango memiliki karakter topografi yang menantang, mulai dari jalur menanjak di hutan hujan tropis, kawasan berkabut, hingga percabangan jalur yang berpotensi membingungkan pendaki. Kondisi tersebut membuat pelacakan posisi secara manual menjadi tidak efektif, terutama saat visibilitas menurun dan cuaca berubah cepat.
Gelang RFID atau radio frequency identification dirancang sebagai perangkat identifikasi sekaligus alat pemantau pergerakan pendaki. Gelang berbahan karet ini dilengkapi cip pemancar sinyal yang akan dipasangkan saat proses registrasi. Setiap pendaki yang bergerak melewati titik pemeriksaan akan terekam dalam sistem sehingga pengelola dapat memantau distribusi pengunjung secara spasial, mengetahui kepadatan jalur, serta melacak posisi terakhir pendaki dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. Data ini menjadi elemen penting dalam analisis geospasial untuk mempercepat pengambilan keputusan saat terjadi kondisi darurat.
Dilansir dari Kompas.com, sistem RFID pada tahap awal diterapkan di Jalur Gunung Putri dan Jalur Cibodas sebagai dua koridor utama pendakian. Titik pemeriksaan utama ditempatkan di kawasan Surya Kencana yang secara spasial merupakan simpul strategis dan area dengan potensi konsentrasi pendaki tinggi. Penempatan ini memungkinkan pengawasan yang lebih terfokus dan efisien, sekaligus mempermudah koordinasi evakuasi jika terjadi kecelakaan. Integrasi teknologi ini juga dilengkapi dengan fitur Panic Button atau SOS, yang memungkinkan pendaki mengirimkan sinyal darurat secara cepat ke petugas di bawah.
Meski demikian, penerapan resmi gelang RFID belum memiliki jadwal pasti karena pendakian Gunung Gede Pangrango masih ditutup sementara sejak Oktober 2025 untuk perbaikan tata kelola. Namun, dari perspektif geospasial dan manajemen risiko, kebijakan ini dipandang sebagai fondasi penting menuju sistem pendakian yang lebih aman, terukur, dan berbasis pemantauan lokasi secara real time.
