Di era ketika hampir setiap aspek kehidupan terhubung oleh data, sistem informasi geografis (SIG), atau geographic information system (GIS), hadir sebagai teknologi yang memungkinkan manusia membaca, memahami, dan memetakan dunia dengan cara baru. SIG adalah sistem canggih yang mampu menggabungkan informasi lokasi dengan data deskriptif sehingga kita bisa melihat pola, hubungan, dan perubahan yang terjadi di permukaan bumi secara menyeluruh.
Menurut penjelasan dari National Geographic Education, SIG berfungsi untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan menampilkan data geografis. Dengan kata lain, teknologi ini memungkinkan pengguna menjawab dua pertanyaan penting sekaligus, yaitu di mana sesuatu terjadi dan apa yang sedang terjadi di sana. Misalnya, SIG dapat menunjukkan letak lahan pertanian sekaligus kondisi kesuburan tanahnya, atau menampilkan jalur banjir bersamaan dengan data kepadatan penduduk di wilayah terdampak.
Di sisi lain, manusia mungkin tidak menyadarinya, tetapi kemungkinan besar mereka memanfaatkan SIG setiap hari. Berbagai alat, seperti Google Maps, radar cuaca, hingga pelacakan paket, semuanya memanfaatkan teknologi ini. “Semua orang menggunakannya,” kata Charlie Mix, Direktur SIG di Center for Applied Geospatial Data Science (CAGDS), University of Tennessee at Chattanooga.
Mix menyebutkan bahwa setiap industri kini telah menggunakan SIG. Teknologi tersebut juga sudah dipakai oleh seluruh perusahaan yang terdaftar dalam Fortune 500. SIG digunakan dalam perencanaan kota, rekayasa, kesehatan publik, bisnis, pemasaran, dan seterusnya.
Esri, perusahaan global yang memelopori pengembangan teknologi SIG, menggambarkan sistem ini sebagai sebuah kerangka kerja untuk memahami dunia melalui data spasial. Dalam praktiknya, SIG bekerja melalui serangkaian proses yang saling terhubung, seperti pengumpulan data, integrasi, analisis, dan visualisasi.
Tahapan SIG
Tahapan pertama adalah pengumpulan data geografis, baik dalam bentuk peta vektor (titik, garis, atau area) maupun citra raster (foto udara atau citra satelit). Data tersebut bisa berasal dari berbagai sumber, mulai dari pengindraan jauh, GPS, sensor lapangan, hingga survei manual. Setelah terkumpul, data disimpan dan diintegrasikan dalam satu sistem basis data yang saling terhubung. Inilah kekuatan SIG, yaitu kemampuannya untuk menggabungkan informasi dari berbagai sumber menjadi satu kesatuan spasial yang utuh.
Tahapan berikutnya adalah analisis spasial, inti dari kerja SIG. Pada tahap ini, sistem menghubungkan data berdasarkan lokasi dan mencari hubungan antarfenomena. Contohnya, SIG dapat digunakan untuk mengetahui hubungan antara curah hujan dan tingkat erosi, atau memetakan daerah rawan longsor berdasarkan kombinasi data topografi, kemiringan lereng, dan curah hujan.
Setelah analisis selesai, hasilnya ditampilkan dalam bentuk visualisasi interaktif, seperti peta digital, dasbor spasial, atau model tiga dimensi. Tampilan visual ini bukan hanya memudahkan pemahaman, melainkan juga membantu pengambil keputusan melihat gambaran besar dari persoalan yang kompleks. Dalam konteks kebijakan publik, misalnya, pemerintah bisa menggunakan SIG untuk menentukan lokasi ideal pembangunan fasilitas umum atau jalur evakuasi bencana berdasarkan distribusi penduduk dan kondisi geografis wilayah.
