Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa pemulihan lingkungan dan perbaikan tata ruang lanskap harus menjadi prioritas utama setelah bencana longsor melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Langkah ini diambil untuk memastikan penanganan tidak hanya terpaku pada situasi darurat, tetapi juga menyentuh akar permasalahan ekologis di kawasan tersebut.
Dilansir dari ANTARA, Hanif menekankan pentingnya keterlibatan tim ahli untuk mengevaluasi daya dukung dan daya tampung lingkungan. Hal ini bertujuan agar fungsi ekologis kawasan tetap terjaga di tengah masifnya pemanfaatan lahan oleh masyarakat.
"Penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial. Kami akan melibatkan para ahli untuk mengkaji penyebab utama longsor ini, sekaligus merumuskan langkah tindak lanjut, terutama yang berkaitan dengan tata ruang agar kejadian serupa tidak terulang," kata Menteri LH sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif dalam pernyataan resmi di Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.
Analisis Curah Hujan dan Indikasi Kerapuhan Lahan
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Cisarua mencatat curah hujan rata-rata 68 milimeter per hari selama empat hari berturut-turut. Secara klimatologis, angka tersebut memang memicu pergerakan tanah, tetapi intensitasnya belum masuk dalam kategori ekstrem jika dibandingkan dengan wilayah lain seperti Sumatera.
Kondisi ini mengindikasikan adanya kerapuhan serius pada struktur tutupan lahan di wilayah Bandung Barat. Menteri Hanif menilai ketahanan lanskap di lokasi kejadian sudah dalam kondisi kritis sehingga tidak mampu menahan beban air hujan yang sebenarnya relatif moderat.
"Curah hujan ini memang menjadi pemicu, namun dengan intensitas sekitar 68 milimeter per hari, sebenarnya tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan beberapa kejadian bencana di wilayah lain. Ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang perlu kita evaluasi secara mendalam," jelas Hanif setelah meninjau lokasi pada Minggu, 25 Januari 2026.
Faktor Geologi dan Intervensi Manusia
Berdasarkan laporan Tempo, Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria memberikan penjelasan teknis mengenai kerentanan wilayah Desa Pasirlangu. Kawasan ini termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah yang sangat sensitif terhadap gangguan alami maupun aktivitas manusia.
Struktur batuan gunung api tua yang telah mengalami pelapukan menjadi salah satu faktor geologis yang memperbesar risiko longsor. Selain itu, penggunaan lahan untuk permukiman padat dan pertanian lahan kering di perbukitan curam makin memperlemah kestabilan lereng.
“Karakteristik batuan gunung api tua yang lapuk dan keberadaan struktur geologi memperbesar kerentanan wilayah ini terhadap longsor,” kata Lana Saria melalui keterangan tertulisnya.
Lana juga menyoroti aktivitas pemotongan lereng untuk akses jalan dan pembangunan rumah yang tidak dibarengi dengan sistem drainase permukaan yang memadai. Menurutnya, peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas.
