Ikatan Surveyor Indonesia (ISI) menegaskan bahwa transformasi menuju era Surveyor 5.0 menuntut perubahan paradigma yang mendasar dalam profesi survei. Surveyor kini tidak lagi diposisikan hanya sebagai operator alat, tetapi berkembang menjadi analis data yang mampu menghasilkan informasi strategis dari berbagai sumber geospasial. Penguasaan teknologi, seperti UAV, IoT, sensor berbasis AI, serta integrasi data spasial, menjadi kompetensi utama agar surveyor mampu menghasilkan insight bernilai bagi perencanaan, konstruksi, hingga manajemen risiko. Perubahan ini sejalan dengan kebutuhan industri yang makin bergantung pada data yang akurat, real-time, dan dapat ditindaklanjuti.
Untuk memastikan kompetensi Surveyor 5.0 dapat diterapkan secara nasional, ISI memperkuat program standardisasi dan sertifikasi berbasis digital. Organisasi ini menegaskan bahwa re-skilling dan up-skilling merupakan kebutuhan utama agar tenaga survei tidak tertinggal oleh percepatan teknologi. ISI mengembangkan kurikulum yang berfokus pada literasi data, pemodelan geospasial, pemetaan presisi, serta penggunaan platform digital berbasis cloud. Melalui pelatihan berkelanjutan, ISI berupaya memastikan bahwa surveyor Indonesia memiliki kompetensi yang relevan dan berdaya saing global.
Dalam forum tersebut, disampaikan bahwa teknologi survei modern memberikan dampak ekonomi signifikan bagi sektor konstruksi dan infrastruktur. Penggunaan perangkat presisi tinggi, pemetaan digital, dan analisis geospasial memungkinkan efisiensi biaya konstruksi mencapai kisaran 10–25 persen. Efisiensi ini muncul dari percepatan validasi desain, penurunan kesalahan lapangan, serta optimasi manajemen material. Teknologi survei tidak lagi dipandang sebagai biaya tambahan, melainkan sebagai investasi strategis yang meningkatkan produktivitas dan akurasi proyek.
Kepatuhan terhadap prinsip environmental, social, and governance (ESG) kini menjadi tuntutan global. ISI menegaskan bahwa teknologi geospasial memainkan peran vital dalam mengukur, memantau, dan memverifikasi kepatuhan ESG, terutama pada sektor yang berisiko tinggi, seperti pertambangan. Sistem pemantauan berbasis citra satelit, pemodelan spasial, dan sensor berbasis AI memungkinkan aktivitas industri dilakukan secara lebih aman, transparan, dan berkelanjutan.
Partisipasi ISI dalam forum ini menegaskan pentingnya sinergi antara asosiasi profesi dan industri dalam membangun ekosistem survei yang modern dan adaptif. Kolaborasi dengan pelaku industri, seperti Datascrip, diharapkan dapat mempercepat lahirnya generasi Surveyor 5.0 yang kompeten, inovatif, dan siap menghadapi tantangan transformasi digital nasional.
