Di tengah kemajuan teknologi mobilitas yang kian pesat, Grab Singapura meluncurkan sebuah program uji coba yang berpotensi mengubah cara navigasi di kawasan perkotaan padat. Melalui kolaborasi dengan OPPO, Qualcomm Technologies, Inc., dan Swift Navigation, Grab memperkenalkan sistem GPS berakurasi tinggi hingga tingkat jalur (lane-level positioning) dalam siaran persnya. Teknologi tersebut mampu menunjukkan posisi kendaraan dengan ketepatan luar biasa, bahkan di lingkungan yang sulit dijangkau sinyal satelit.
Langkah ini menjadikan Grab sebagai perusahaan pertama di Asia Tenggara yang mengintegrasikan sistem penentuan posisi dengan tingkat presisi tinggi langsung ke dalam perangkat seluler dan aplikasi navigasi. Program ini ditujukan untuk meningkatkan pengalaman berkendara dan pengantaran bagi mitra Grab, terutama di Singapura yang dikenal sebagai kota dengan jaringan jalan bertingkat dan gedung pencakar langit yang padat.
Bagi pengemudi Grab, menavigasi jalan-jalan sempit di kawasan Central Business District atau menemukan pintu masuk yang tepat di kompleks perbelanjaan besar bukanlah hal mudah. Lingkungan perkotaan yang padat sering kali menyebabkan akurasi GPS menurun hingga lebih dari 20 meter, membuat sistem navigasi menjadi kurang andal. Hal ini berdampak langsung pada efisiensi waktu, akurasi estimasi kedatangan, bahkan pada tingkat kepuasan pelanggan.
Untuk mengatasi persoalan ini, Grab menggandeng tiga perusahaan teknologi global untuk menghadirkan solusi inovatif. Melalui uji coba ini, lokasi kendaraan kini dapat terdeteksi dengan ketepatan jauh lebih tinggi, memungkinkan pengemudi menavigasi rute yang rumit dengan lebih percaya diri dan efisien.
Sinergi Teknologi Terkini
Dalam program ini, masing-masing mitra memberikan kontribusi penting. OPPO menyediakan perangkat ponsel lipat Find N5 yang dilengkapi dengan Dual Frequency GNSS untuk mendukung teknologi penentuan posisi generasi terbaru. Qualcomm Technologies menanamkan fitur Meter-Level Positioning for Mobile di dalam Snapdragon 8 Elite Mobile Platform, yang memberikan koreksi sinyal GPS secara real time. Sementara itu, Swift Navigation menghadirkan Skylark Precise Positioning Service, sistem berbasis cloud yang memanfaatkan pemodelan atmosfer untuk mengoreksi kesalahan sinyal dan meningkatkan akurasi hingga sepuluh kali lipat.
Skylark bekerja dengan jaringan stasiun referensi di berbagai negara, termasuk yang dioperasikan oleh Singapore Land Authority (SLA) melalui Singapore Satellite Positioning Reference Network (SiReNT). Data yang dihasilkan membantu menciptakan sistem penentuan posisi dengan ketepatan luar biasa, ideal untuk layanan transportasi jarak dekat dan logistik perkotaan.
Grab berencana memanfaatkan hasil uji coba ini untuk memperluas teknologi tersebut ke perangkat navigasi internalnya, Karta, agar dapat digunakan oleh lebih banyak mitra di masa mendatang.
Presisi Setara Kendaraan Otonom
Menurut Nilofer Christensen, Head of Consumer Product GrabMaps, teknologi ini menjadi terobosan besar bagi dunia ride-hailing di Asia Tenggara. “Grab adalah yang pertama membawa tingkat presisi seperti ini ke industri transportasi daring di kawasan ini,” ujarnya. “Mitra pengemudi kami kini menggunakan teknologi yang setara dengan sistem navigasi pada kendaraan otonom atau motorsport profesional.”
Pihak OPPO juga menegaskan pentingnya inovasi ini. Presiden OPPO Asia Pasifik Gary Dong mengatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata dari komitmen perusahaan untuk menghadirkan teknologi yang berpusat pada pengguna.
“Dengan kemampuan dual-frequency pada OPPO Find N5 dan dukungan Snapdragon 8, kami memungkinkan mitra Grab bernavigasi dengan akurasi tinggi bahkan di lingkungan perkotaan paling kompleks,” katanya.
Dari sisi penyedia chipset, Francesco Grilli dari Qualcomm Technologies menyebut kolaborasi ini sebagai langkah penting dalam menghadirkan akurasi penentuan posisi tingkat lanjut ke perangkat mobile. Sementara, Holger Ippach dari Swift Navigation menilai integrasi GPS presisi tinggi ini sebagai “terobosan global” yang akan menjadi tolok ukur baru bagi industri navigasi mobile di masa depan.
Selain memperkuat sistem di permukaan, Grab juga mengatasi masalah “titik buta GPS” di area bawah tanah, seperti basemen dan tempat parkir. Perusahaan mulai memetakan area-area tersebut dengan perangkat KartaCam dan teknologi LiDAR miliknya.
Ketika kendaraan memasuki area di mana sinyal satelit lemah, sistem akan secara otomatis beralih ke teknologi dead-reckoning untuk mempertahankan akurasi arah dan posisi. Dengan bantuan algoritma map-matching, navigasi tetap berjalan lancar tanpa gangguan sehingga proses penjemputan menjadi lebih cepat dan efisien.
Hingga November 2025, area bawah tanah di sekitar Marina Bay, termasuk hotel dan pusat perbelanjaan besar, telah berhasil dipetakan. Sementara itu, dilansir dari The Straits Times, pemetaan menyeluruh tempat parkir dan basemen di area dengan lalu lintas tinggi akan selesai dalam tiga hingga enam bulan ke depan.
Pengalaman Nyata di Lapangan
Uji coba yang dimulai pada Oktober 2025 ini melibatkan sekitar 250 mitra pengemudi dan pengantaran. Enam puluh peserta di antaranya menerima ponsel OPPO Find N5 melalui kerja sama Grab dan OPPO.
Salah satu peserta uji coba, Santhou Rudy Peter (47 tahun), mengaku merasakan perbedaan signifikan. “Sebelumnya, sinyal GPS sering lemah di kawasan gedung tinggi, tapi sekarang jauh lebih akurat dan stabil. Navigasi terasa lebih cepat dan tepat, membuat saya bisa menjemput penumpang tanpa kebingungan.”
Bagi pelanggan, teknologi ini memberikan manfaat nyata, seperti waktu tiba yang lebih akurat, perjalanan yang lebih lancar, serta pengurangan pembatalan akibat kesalahan lokasi. Baik itu menjemput di pintu masuk yang benar atau mengantarkan pesanan ke gedung yang tepat, akurasi tingkat jalur membantu memastikan layanan Grab makin andal. Program uji coba ini menjadi langkah awal menuju sistem navigasi lane-level di seluruh Asia Tenggara.
